Sejarah Awal Mula Masuknya Islam di Nusantara

Oleh : UAO - 29 August 2021 16:00 WIB

Sepeninggalan Nabi Muhammad SAW tepatnya pada 632 M silam, kepemimpinan agama islam tidak berhenti begitu saja. Kepemimpinan islam diteruskan oleh para khalifah dan disebarkan  ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Hebatnya baru sampai abad ke-8 islam telah menyebar hingga ke seluruh Afrika, Timur Tengah, dan Benua Eropa.

Baru pada dinasti Ummayah perkembangan islam masuk ke nusantara. Zaman dahulu Indonesia dikenal sebagai daerah terkenal akan hasil rempah-rempahnya, sehingga banyak sekali para pedagang dan saudagar dari seluruh dunia datang ke kapulauan Indonesia untuk berdagang.

Hal tersebut juga menarik pedagang asal arab, Gujarat, dan juga Persia. Sambil berdagang para pedagang muslim sembari berdakwah untuk mengenalkan ajaran islam kepada para penduduk.

Menurut para sejarawan, pada abad ke-13 M islam sudah masuk ke nusantara yang dibawa oleh para pedagang muslim. Namun lebih pastinya para ahli masih terdapat perbedaan pendapat dari para sejarawan namun setidaknya empat teori tentang masuknya islam ke Indonesia.

1. Teori Gujarat

Teori ini beranggapan bahwa agama dan kebudayaan islam dibawa oleh para pedagang dari daerah Gujarat, India yang berlayar melewati selat Malaka. Teori ini menjelaskan bahwa kedatangan islam ke nusantara sekitar abad ke-13 melalui kontak para pedagang dan kerajaan samudera pasai yang menguasai selat Malaka pada saat itu.

Teori ini juga diperkuat dengan penemuan makam Sultan Samudera Pasai, Malik As-Saleh pada tahun 1297 yang bercorak Gujarat. Teori ini ditemukan oleh S. Hurgronje dan J. Pijnapel.

2. Teori Persia

Umar Amir Husein dan Hoesein Djadjadiningrat berpendapat bahwa islam masuk ke nusantara melalui para pedagang yang berasal dari Persia, bukan dari Gujarat. Persia adalah sebuah kerajaan yang saat ini kemungkinan besar berada di Iran, teori ini juga tercetus karena pada awal masuknya islam ke nusantara di abad ke-13, ajaran yang marak saat ini adalah ajaran Syiah yang berasal dari Persia.

Selain itu, adanya beberapa kesamaan tradisi Indonesia dengan Persia dianggap sebagai salah satu penguat. Contohnya adalah peringatan 10 Muharrom islam-Persia yang serupa dengan upacara peringatan Tabuik atau Tabuk dibeberapa wilayah Sumatra khususnya Sumatra Barat dan Jambi.

3. Teori China

Lain halnya dengan Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby, mereka berpendapat bahwa sebenarnya kebudayaan islam masuk ke nusantara melalui perantara masyarakat muslim China. Teori ini berpendapat bahwa migrasi masyarakat muslim China dari kanton ke nusantara, khususnya Palembang pada abad ke-9 menjadi awal mula masuknya budaya islam ke nusantara.

Hal ini dikuatkan dengan adanya bukti bahwa Raden Patah (Raja Demak) adalah keturunan China, penulisan gelar raja-raja Demak dengan istilah China, dan catatan yang menyebutkan bahwa pedagang China lah yang pertama menduduki pelabuhan-pelabuhan di nusantara.

4. Teori Mekkah

Dalam teori ini dijelaskan bahwa islam di nusantara dibawa langsung oleh para musafir dari Arab yang memiliki semangat untuk menyebarkan islam keseluruh dunia pada abad ke-7 hal ini diperkuat dengan adanya sebuah perkampungan Arab di Barus, Sumatra Utara yang dikenal dengan nama Bandar Khalifah. 

Selain itu, Samudera Pasai madzhab yang dikenal adalah madzhab Syafi'i madzhab ini juga terkenal di Arab dan Mesir pada saat itu. Kemudian yang terakhir adalah digunakannya gelar Al Malik pada raja-raja Samudera Pasai seperti budaya islam di Mesir.

 Teori inilah yang paling banyak mendapat dukungan para tokoh seperti, Van Leur, Anthony H. Johns, T.W Arnold, dan Buya Hamka. Islam juga sempat menjadi kekuatan yang cukup disegani di nusantara, hal ini ditandai dengan munculnya banyak kerajaan islam yang cukup terkenal dan berkuasa.

Risalah islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW di Jazirah arab pada abad ke-7 M ketika Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari allah SWT. Setelah kematian Rasulallah SAW kerajaan islam berkembang hingga Samudera Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan ke-kholifahan Ottoman, kemaharajaan Mughal, india, dan kesultanan Malaka telah menjadi kerajaan yang besar di Dunia.

Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri islam terutama pada zaman emas islam. Karena banyak kerajaan islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 M, banyak daerah islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah perang dunia 1. Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran terakhir tumbang. Jazirah arab sebelum kedatangan islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakan bangsa arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut Agama Kristen dan yahudi. 

Makkah adalah tempat suci bagi bangsa arab ketika itu karena terdapat berhala-berhala mereka dan telaga zam-zam dan yang paling penting sekali serta Ka'bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad SAW. Dilahirkan di Mekkah pada Tahun Gajah yaitu 570 M. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orangtuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia. 

Namun, ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun beliau didatangi Malaikat Jibril sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai "as-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang pertama yang memeluk islam)" dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah.

Pada tahun 622 M Nabi Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender hijirah. Penduduk Mekkah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad dengan hasil yang baik walaupun ada diantaranya kaum islam yang tewas.

Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukan kota Mekkah. Setelah Nabi Muhammad wafat seluruh Jazirah Arab dibawah penguasaan Islam. 

Agama Islam pertama masuk di Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dan lain-lain. Tokoh penyebar Islam dalah Walisongo. Wafatnya Rasulullah Khalifah Usman Bin Affan RA mengirim deligasi ke China untuk memperkenalkan daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan empat tahun ini para utusan Usman ternyata sempat singgah di kepulauan Nusantara. 

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Ummayah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. 

Sejak itu para pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri ini sambil terus berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi milai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah barat dari kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima Agama Islam. 

Bahkan di Aceh kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni kerajaan Samudera Pasai. Berita ini dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H atau 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam.

Begitupula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara muslim dari Maghribi yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H atau 1345 M menuliskan bahwa di aceh telah tersebar Madzhab Syafi'i.

Adapun peninggalan tertua dari kaum muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang muslimah Binti Maimun.

Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H atau 1082 M yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H atau 14 M belum ada pengislaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 atau 14 M penduduk pribumi memeluk Islam secara massal.

Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk islamnya penduduk nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. 

Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. 

Pesatnya Islamisasi pada antara abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. 

Thomas Arnold dalam The preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan islamnya penduduk pribumi nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam diberbagai daerah Kepulauan ini, perdagangan dengan kaum muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke nusantara juga semakin banyak. Yang sebagian besar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. 

Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah hadromaut. Namun setelah bangsa-bangsa eropa nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah demi daerah di nusantara, hubungan dengan pesat dunia islam seakan terputus. 

Terutama di abad ke 17 dan 18 M. Penyebabnya, selain karena kaum muslimin nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. 

Setiap kali para penjajah terutama belanda menundukkan kerajaan islam di nusantara, mereka pasti menyadarkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. 

Maka terputuslah hubungan ummat islam nusantara dengan ummat islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. 

Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat islam nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka mempersulit pembaruan antara orang arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa eropa pada akhir abad ke 15 M ke kepulauan nusantara, memang sudah terlihat sifat  rakus mereka untuk menguasai nusantara. 

Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk islam, agama seceru mereka, sehingga semangat perang salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut hindu atau budha. 

Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum muslimin, maka setelah menguasai malaka pada tahun 1511, portugis menjalin kerja sama dengan kerajaan sunda pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di sunda kelapa. 

Namun maksud portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan islam dari sepanjang pesisir utara pulau jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra aceh berdarah arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, fatahillah. 

Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan islam jawa, yakni demak, Cirebon dan banten fatahillah sempat berguru di mekkah. Bahkan ikut mempertahankan mekkah dari serbuan turki usmani.

Kedatangan kaum kolonialis disatu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin nusantara, namun disisi lain membuat pendalaman akidah islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada madzhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra-islam. 

Kalangan priyai yang dekat dengan belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. 

Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik yang licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada' nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan belanda. 

Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan islam diabad 16 dan 17 seperti malaka (Malaysia), sulu (filiphina), samudera pasai, banten, sunda kelapa, Makassar, ternate, hingga perlawanan para ulama di abad ke 18 seperti perang Cirebon (bagus rangin), perang jawa (diponegoro), perang padre (Imam Bonjol) dan perang aceh (Teuku Umar).

 

B. Sumber-sumber berita masuknya agama dan kebudayaan islam di Indonesia.

1. Sumber-sumber luar negeri

a. Berita Arab

para pedagang arab telah datang ke Indonesia sejak masa kerajaan sriwijaya (abad ke-7 M) yang menguasai jalur pelayaran perdagangan diwilayah Indonesia bagian barat termasuk selat malaka pada masa itu.

b. Berita Eropa

berita ini datangnya dari marcopolo. Ketika suatu saat dia ditugaskan untuk mengantarkan putrinya yang dipersembahkan kepada kaisar romawi.

c. Berita india

berita ini menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan islam di Indonesia.

d. Berita china

berita ini berhasil diketahui melalui catatan di ma-huan, seorang penulis yang mengikuti perjalanan laksamana cheng ho. Ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar islam yang bertempat tinggal dipantai utara pulau jawa.

2. Sumber dalam negeri

a. Penemuan sebuah batu di lerang (dekat gresik). Batu bersurat itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti maimun.

b. Makam sultan malikul sholeh di sumatra utara yang meninggal pada bulan ramadhan tahun 676 H atau tahun 1297 M.

c. Makam syeikh Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M.

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :