Home » Kongkow » Tahukah Kamu » Ternyata, Banyak Kepercayaan Mistik yang Selalu Mewarnai Tugas Dan Operasional TNI

Ternyata, Banyak Kepercayaan Mistik yang Selalu Mewarnai Tugas Dan Operasional TNI

- Selasa, 18 April 2017 | 10:00 WIB
Ternyata, Banyak Kepercayaan Mistik yang Selalu Mewarnai Tugas Dan Operasional TNI

Dalam perjalanan sejarahnya kepercayaan pada dunia mistik masih banyak mempengaruhi aktivitas kegiatan prajurit TNI baik dalam kondisi perang maupun non perang.

Dalam misi tempur di Timor-Timur (Timor Leste, 1975) para prajurit dari  Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sedang bertempur melawan mantan bekas pasukan khusus Portugis (Tropas) dilarang mengambil barang milik musuh yang sudah gugur.

Tapi senjata yang ditinggalkan musuh tetap diambil dan diamankan agar tidak jatuh ke tangan musuh lagi.

Ada anggapan, jika nekad mengambil barang-barang milik musuh konon prajurit bersangkutan kemungkinan tertembak juga tinggi.

Sebenarnya prinsip mengambil barang milik musuh yang sudah tak berdaya ini juga terjadi di era Perang Kemerdekaan RI (1948).

Namun karena di zaman itu para pasukan RI masih banyak mengalami  kekurangan, barang-barang milik musuh pun, seperti baju, celana, dan sepatu, terpaksa diambil. Meskipun ketika dipakai oleh para gerilyawan RI malah tampak lucu dan kedodoran.

Di zaman merdeka seperti sekarang ini kepercayaan mistik yang beredar kalangan prajurit TNI tetap ada. Misalnya setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) baru selalu dilakukan acara memecah kendi berisi air dan bunga tujuh rupa.

Tujuannya agar semua alutsista yang dioperasikan selalu dalam kondisi “aman dan selamat”.

Di Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, yang merupakan sarangnya skadron-skadron jet tempur TNI AU, setiap tahun juga diadakan upacara ritual tertentu agar semua operasional lanud Iswahyudi berjalan lancar dan aman.

Menurut Marsda TNI Joko Poerwoko yang pernah menjabat Lanud Iswayudi (2002), Lanud pernah mengalami musibah dua jet tempur jatuh sekaligus karena bersenggolan di udara.

Tak lama kemudian setelah musibah dua jet tempur jatuh itu datang “orang pintar”. Dia memberi tahu jika musibah jatuhnya kedua jet tempur itu dikarenakan Lanud Iswahyudi belum mengadakan ritual slametan.

Demi mencegah musibah terulang meskipun secara rasional sulit dipercaya,  acara slametan itu tiap tahun tetap dilaksanakan.

Dalam setiap operasi untuk melakukan misi SAR di medan sulit seperti gunung, hutan, dan lautan, personel TNI juga selalu menemui juru kunci atau sesepuh setempat agar terhindar dari kendala yang bersifat supranatural.

Menurut pengakuan pilot helikopter TNI AU berpangkat Mayor Penerbang yang tak mau disebut namanya, ketika akan melakukan operasi SAR korban kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 di kawasan Gunung Salak (Mei 2012), Bogor, Jawa Barat, sebelum terbang ia sempat menemui juru kunci.

Anehnya ketika pilot bersangkutan sudah terbang di atas lokasi jatuhnya pesawat dalam jarak waktu tak lebih dari 30 menit sejak dirinya menemui si juru kunci, dari ketinggian yang dirinya masih bisa melihat sangat jelas ke darat terjadi keanehan. 

Tampak sang juru kunci sudah berada di lokasi jatuhnya pesawat sambil menunggui personel TNI yang sedang mengevakuasi korban.

Cari Artikel Lainnya