Home » Kongkow » Tahukah Kamu » Sejarah dan Asal Mula Warna Pink Bisa Identik dengan Cewek, Ini 4 Hal yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Sejarah dan Asal Mula Warna Pink Bisa Identik dengan Cewek, Ini 4 Hal yang Mungkin Belum Kamu Tahu

- Selasa, 10 Desember 2019 | 10:25 WIB
Sejarah dan Asal Mula Warna Pink Bisa Identik dengan Cewek, Ini 4 Hal yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Perjuangan perempuan melawan pandangan patriarki tetap menyala hingga kini. Tak hanya di Amerika atau negara-negara Barat saja. Perempuan-perempuan Indonesia pun tak ketinggalan memperjuangkan hak dan posisi mereka yang masih termarginalkan dalam masyarakat. Dalam rangka menyambut Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret besok, para perempuan dan pejuang kesetaraan gender Indonesia berkumpul di kawasan Thamrin pada Sabtu 4 Maret silam.

Kamu yang kemarin melewati kawasan Thamrin dan tak tahu ada acara ini pasti bingung. “Wah, ada apaan sih kok banyak orang berkumpul pakai baju pink dan ungu semua?” Warna ungu dan pink memang jadi dresscode bagi para pejuang kesetaraan gender yang kemarin turun ke jalan mengajukan tuntutannya. Kedua warna tersebut memang seringkali diidentikan dengan perempuan atau sifat feminin, terutama pink.

Tapi sebenarnya sejak kenapa sih warna pink begitu melekat image-nya dengan perempuan? Apa juga ya alasan di balik sesuatu yang sudah kita anggap sebagai kewajaran ini? Nah buat yang penasaran, Hipwee News & Feature sudah buat ulasan singkatnya nih.

Pink dikonotasikan sebagai warna feminin sejak era Perang Dunia II. Terutama gara-gara mantan ibu negara Amerika, Mamie Eisenhower yang terkenal dengan obsesinya terhadap warna pink

Kalau ditanya siapa yang mempopulerkan warna pink sebagai warna untuk perempuan, jawabnya mungkin adalah mantan ibu negara Amerika, Mamie Eisenhower-lah orangnya. Dengan perabot dan segala macam barang kepemilikannya yang berwarna pink, wajar lah kalau beliau disebut ‘mother of pink’.

Alasannya satu; “Karena Mamie Eisenhower suka warna pink“. Sesimpel itu.

Namun karena posisinya sebagai ibu negara, apa yang ia lakukan dan ia pilih pasti jadi sorotan publik. Termasuk hobinya menggunakan warna pink ini. Nah kalau ibu negaranya aja mengenakan pink, jelas saja warganya tertarik ikutan juga.

 

Beranjak ke tahun 1980-an, perusahaan di Amerika menciptakan tren ini untuk strategi pemasaran. Dari produk bayi, mainan balita, sampai keperluan sekolah, dibedakan warnanya

Identifikasi warna terhadap gender tertentu ini bertahan karena tingkat konsumerisme masyarakat yang makin tinggi. Nah yang semakin menamcapkan doktrin bahwa warna pink adalah warna perempuan adalah perusahaan-perusahaan di Amerika pada tahun 1980-an. Pada masa itu, banyak perusahaan yang menggembar-gemborkan bahwa warna pink itu untuk perempuan sementara biru untuk laki-laki. Mulai dari perkara mainan, baju hingga perabot dibuat dengan warna tersebut sebagai pembeda. Termasuk atribut untuk bayi.

Dengan sedari kecil disodori realita bahwa biru untuk laki-laki dan pink untuk perempuan, jelas saja generasi yang lahir 1980-an ke atas punya pola pikir bahwa pink itu warna perempuan. Makin ke sini konsep perbedaan warna itu semakin terpatri dalam segala aspek kehidupan. Padahal ya cuma warna, tapi banyak orangtua yang panik kalau anak laki-lakinya menyukai warna pink. Coba jika perusahaan-perusahaan di zaman itu berpikir sebaliknya, bisa saja sekarang warna biru itu justru dianggap feminin.

Padahal sebelum populer di era Eisenhower, warna pink sejatinya disarankan untuk cowok. Menurut Earnshaw’s Infants’ Department, pink itu lebih kuat!

Kalau melihat foto-foto zaman dulu, kamu pasti akan bakal sulit menentukan bayi itu cowok atau cewek hanya dari pakaiannya. Ya selain mungkin fotonya masih hitam putih, gaya pakaian dulu memang lebih banyak gender netral. Apalagi kalau kamu lihat foto-foto jadul bangsawan Inggris, nggak pangeran atau putri semuanya waktu kecil pakai rok dan pakaian berenda. Tapi kalau Pangeran George, anak laki-laki Pangeran William, sekarang terlihat menggunakan pakaian pink pasti banyak yang bakal berkicau.

Sejarah terawal akan asosiasi pink dan cewek tercatat padat tahun 1869. Dalam terbitan Little Women di tahun tersebut, terdapat gambar Amy yang mengikatkan pita pink ke satu dari dua bayi untuk membedakan mana yang perempuan. Tapi pada masa itupun, warna pink masih dipakai oleh semua gender tanpa bias. Bahkan pada tahun 1918, publikasi Earnshaw’s Infants’s Department menyarankan warna biru untuk bayi perempuan karena dianggap lebih lembut dan cantik. Sedangkan pink justru dilihat sebagai warna menyala dan kuat yang cocok untuk laki-laki.

Dibantu oleh tokoh seperti Mamie Eisenhower dan kekuatan kapitalisme, perbedaan image warna pink dan biru yang kita kenal sekarang makin menguat.

Nah bagi para pejuang kesetaraan gender, warna pink punya fungsi sendiri. Pink adalah representasi perjuangan, namun tetap menggunakan kelembutan

Perempuan memang sudah terlanjur identik dengan warna pink. Meskipun memang hanya sekadar warna, paling tidak image pink bisa dijadikan simbol pemersatu untuk memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan. Akhirnya, warna pink-lah yang sering digunakan dalam berbagai pergerakan perempuan di seluruh dunia. Ada juga sih yang berusaha memaknai pink sebagai warna yang lembut tapi sebenarnya kuat, seperti perempuan.

Apapun makna sebenarnya atau bagaimana warna pink bisa identik dengan perempuan, hal yang lebih penting adalah inti atau tuntutan dari pergerakan itu sendiri. Nah buat kamu yang kemarin nggak sempet ikutan aksi Women’s March, ini nih 8 tuntutan mereka. Yuk sama-sama jadikan Indonesia lebih lebih aman bagi semua. Baik bagi laki-laki, maupun perempuan. 

Cari Artikel Lainnya