Home » Kongkow » Kuliner » Sego Koyor, Kuliner Khas Jogja Pemuas Selera

Sego Koyor, Kuliner Khas Jogja Pemuas Selera

- Sabtu, 28 September 2019 | 00:44 WIB
Sego Koyor, Kuliner Khas Jogja Pemuas Selera

Yogyakarta - Sebagai "Kota Pelajar" dengan daya magnet seperti Jogja pasti memiliki kekayaan rupa yang bermacam-macam, misalnya kuliner. Banyak warung dan restroran yang menjual kuliner khas Jogja yang selalu ramai pembeli di siang dan malam hari. 

Sebut saja “Sego Koyor”. Kuliner malam yang dijual Suparti, simbah berusia 61 tahun. Sego (nasi) Koyor adalah nasi putih yang ditambah dengan sambal dan koyor (urat/otot sapi). Kuliner malam yang dapat ditemui di depan sebuah bengkel di Jalan Brigjend Katamso ini ramai diserbu warga ketika malam tiba. Pasalnya “Sego Koyor” ini sulit di temui di tempat lain sehingga menarik banyak orang datang ke warung Suparti. Lagi pula kuliner ini sudah ada sejak lama.

“Ide awal sego koyor itu dari ibu saya, Bu Parman, dan sudah ada sejak tahun 1968. Saya meneruskannya dari tahun 2012 sampai sekarang,” kata Suparti.

Sebelum pindah ke Jalan Brigjend Katamso, dulu Bu Parman berjualan di terminal yang tempatnya kini digunakan untuk Taman Pintar. Walaupun sekarang lokasinya terbilang tidak begitu kentara jika tidak jeli, namun masyarakat sudah hapal dan menjadikannya sebagai rujukan kuliner di malam hari.

Satu porsi “Sego Koyor” harganya Rp 15 ribu. Harga yang cukup terjangkau untuk mendapatkan menu makanan yang jarang-jarang ada di daerah lain. Ada juga menu lain yang dijual Suparti, seperti nasi pindang, telor, dan oseng-oseng. Warung “Sego Koyor” buka dari pukul 21.30 sampai pukul 04.00/05.00. 

“Kalau saya paling cuma bisa sampai jam 02.00 hingga jam 03.00, karena ngurusin anak-anak pada sekolah,” ucap Lina, 52 tahun, adik kandung Suparti yang biasa membantunya jualan ”Sego Koyor”.

Cita rasa yang membuat “Sego Koyor” kuat adalah karena bumbunya yang komplit. Rempah-rempahya mulai dari bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, miri, dan merica. Semua itu digongso lalu dicampur dan dibumbui. Dengan durasi memasak yang cukup lama menjadikan  “Sego Koyor” lebih lembut teksturnya dan kenyal di mulut. 

“Pertama rebus koyor/otot sampai 3 jam, baru semua bumbu tadi dicampur setelah digongso,” kata Lia membuka rahasia dapur mereka. Suparti adalah generasi kedua setelah ibunya (Bu Parman). Suparti dibantu empat karyawan yang semuanya dari keluarga sendiri. 

Seorang mahasiswa UIN Suka, Iqbal Fahreza, 23 tahun, sebagai pembeli pun mengutarakan pendapatnya mengenai “Sego koyor” ini. “Sego Koyor ini warung langganan saya, dan berapa kali pun ke sini tetap terasa enak dan dapat memanjakan lidah serta perut saya,” tutur Iqbal.

 

Cari Artikel Lainnya