Home » Kongkow » kongkow » Melihat Tradisi Mumi yang ada di Papua Nugini

Melihat Tradisi Mumi yang ada di Papua Nugini

- Senin, 07 Oktober 2019 | 15:00 WIB
Melihat Tradisi Mumi yang ada di Papua Nugini

Mesir kuno sering diidentikkan dengan proses pengawetan jenazah atau mumi. Tapi sebenarnya, ada banyak budaya di seluruh dunia yang juga mempraktikkan proses ini. Salah satunya suku Angga di wilayah Aseki Papua Nugini.

Di wilayah yang masih bertetangga dengan Indonesia ini, wujud mumi berbeda dengan di Mesir. Mumi Angga tidak dibungkus perban dan ditempatkan di makam. Mereka dibiarkan di tempat terbuka, tinggi di atas tebing, sering menghadap desa di mana mereka pernah tinggal.

Salah satu proses yang paling penting dari mumifikasi adalah penghapusan kelembaban pada mayat karena air itu akan menyebabkan pembusukan, dan tubuh membusuk tidak dapat dijadikan mumi.

Pada Mesir kuno mumifikasi dilakukan dengan menutup mayat dengan garam dan campuran rempah-rempah yang memiliki sifat pengeringan besar. Suku Angga menggunakan pendekatan yang lebih langsung - mereka dipanaskan mayat di atas api.

Prosesnya cukup rumit mulai dari mengiris terbuka lutut, siku, kaki, dan sendi lainnya. Bambu berongga kemudian dimasukkan ke dalam celah, serta perut tubuh untuk mengeluarkan isinya.

Mayat kemudian dibiarkan seperti dalam proses pengasapan. Mereka dibiarkan selama lebih dari satu bulan sampai semua cairan tubuh telah menetes dari berbagai luka yang dibuat di dalam tubuh.

Cairan ini dikumpulkan oleh warga dan dioleskan ke tubuhnya sendiri. Mereka percaya itu sebagai dapat mentransfer kekuatan si pemilik tubuh semasa hidupnya. Konon ada juga yang menjadikannya sebagai minyak goreng. Tapi itu tak terbukti kebenarannya.

Setelah tubuh itu dibakar dan kering, jenazah kemudian ditutupi dengan oker untuk melindungi mumi.  

Praktik mumifikasi di Papua Nugini berakhir pada tahun 1949, ketika para misionaris berakar kuat dalam suku Aseki. Mumi yang tersisa sekarang secara hati-hati dirawat oleh penduduk desa yang secara berkala melakukan pekerjaan restorasi setiap kali anggota tubuh mumi terkulai atau terlihat seperti itu akan jatuh.

Jika perlu, bagian tubuh akan ditambahkan dan getah dipanaskan dari pohon lokal, yang digunakan sebagai lem. 

Mumi di Angga dapat ditemukan di beberapa desa dari Kecamatan Aseki Papua New Guinea. Kebetulan, suku Angga bukan satu-satunya. Mumifikasi juga dipraktikkan oleh suku Filipi di kota Kabayan. Mereka dikenal sebagai mumi Kabayan atau mumi Api.

Cari Artikel Lainnya