Home » Kongkow » Inovasi » Inovasi ITB Masuk Tiga Besar Swiss Innovation Challenge 2017

Inovasi ITB Masuk Tiga Besar Swiss Innovation Challenge 2017

- Selasa, 03 Oktober 2017 | 14:20 WIB
Inovasi ITB Masuk Tiga Besar Swiss Innovation Challenge 2017

Tiga inovasi mahasiswa ITB berhasil keluar sebagai juara di ajang Swiss Innovation Challange Indonesia. Kompetisi yang diadakan atas kerjasama antara SBM-ITB dengan School of Business at University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland ini merupakan lomba ide bisnis untuk kaum muda.

Posisi pertama diraih oleh Tesla Daya Elektrika, start-up yang mengembangkan sistem proteksi petir bernama I-GSW High Voltage untuk perlindungan pada tower transmisi tegangan tinggi dan I-GSW Medium Voltage untuk perlindungan pada tower distribusi tegangan menengah.

Konsep yang diaplikasikan pada produk ini merupakan hasil temuan Dr. Ir. Djoko Darwanto (KK Teknik Ketenagalistrikan) yang telah terbukti mampu melindungi tower transmisi dari sambaran petir. Pada tahun 2016, konsep ini telah dikenalkan pada PT PLN sebagai target market utama. 

SVARA, yang diketuai oleh Farid Fadhil Habibi (STI ’12) keluar sebagai juara kedua, dengan produk hasil implementasi blockchain pada platform industri musik. Dengan menerapkan blockchain pada aplikasi streaming musik, transparansi untuk kerjasama antara musisi dan penyedia layanan dapat terjamin, dimana masing-masing pihak menyimpan basis data bersama yang identik, dan segala royalti direkam dalam basis data tersebut. 

Juara ketiga diraih oleh BIOPS Agrotekno yang diketuai oleh MM Malikul Ikram (RH ’11), dengan produk Encomotion, sebuah sistem terintegrasi yang dapat digunakan untuk memonitor dan mengontrol kondisi lingkungan pertanian dalam green house. Visi dari BIOPS Agrotekno adalah “Membawa Era Baru Pertanian Indonesia”, melalui promosi sistem cerdas sehingga masyarakat tertarik untuk mendukung dan ikut dalam kegiatan bertani yang didukung oleh produk teknologi.

Saat ini, Encomotion sudah diterapkan pada salah satu green house milik Balai Besar Pelatihan Pertanian (BPPP) Lembang, dan terbukti berhasil meningkatkan produktivitas hingga 40% dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Cari Artikel Lainnya