Terancam Punah, Rumah Gadang Terpanjang di Dunia Rusak Parah

Oleh : Bos Babecom - 24 December 2016 10:00 WIB

Kabupaten Solok Selatan (Solsel) merupakan daerah yang dikenal dengan 1.000 rumah gadang (rumah adat budaya Minangkabau).

Kini dari 1000 rumah gadang itu, 372 diantaranya mengalami kerusakan. Mulai dari rusak ringan, sedang dan berat. Sementara jumlah rumah gadang yang layak huni di daerah itu kini hanya mencapa 591 unit. Sisanya masih dalam tahap perbaikan.

Lebih parah lagi, satu rumah gadang yang dikenal paling panjang di Sumbar bahkan di dunia nasib sangat miris. Kini sangat keropos dan terancam punah.

Bentuk kerusakan dari rumah gadang ini beragam. Ada yang atap sudah tidak ada, dinding reot, lantai rapuh, kulit hiasan dinding sudah copot dan lain sebagainya. Bahkan ada yang menanti hari bakal roboh.

"Perbaikan rumah gadang butuh dana besar, namun untuk pelestarian ini, persukuan di daerah tak punya anggaran, sehingga dibiarkan saja roboh. Kayu sulit, apalagi biaya pelestariannya," ujar salah seorang niniak mamak di Sangir, Zulkarnain Dt Pintu Basa, pemilik salah satu rumah gadang yang rusak.

Atas ketidakmampuan pihak sukunya memperbaiki rumah gadang ini, Zulkarnain Dt Pintu Basa berharap ada peran pemerintah dalam pelestarian cagar budaya tersebut.

Apalagi Solsel populer dengan kawasan seribu rumah gadang. Menurutnya, perlu ada upaya penyelamatkan rumah adat yang terancam punah ini.

"Rumah gadang kami, suku malayu koto kaciak juga rusak parah, namun sudah kami perbaiki sebagian kecil. Di suku lainnya, ada yang sudah roboh rumah gadang pasukuannya. Ini, terkendala anggaran perbaikan," tukas mamak pasukuan Malayu Koto Kaciak itu.

Di kawasan wisata budaya seribu ruamah gadang, rumah gadang milik suku Bariang juga terancam punah. Baik atap, dinding, lantai, serta tangga rumah gadang yang dibangun dengan kayu juga sudah keropos.

Ketidakmampuan pihak suku memperbaiki rumah gadang ini, karena anggaran yang dibutuhkan untuk satu rumah gadang mencapai miliar rupiah. Dana sebesar itu sulit terkumpul persukuan.

Di samping itu sangat mustahil pihak persukuan mampu mengelola dan mengumpulkan dana sebesar itu.

Atas dasar itu pihak ninik mamak di Kabupaten Solok Selatan, melalui  Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Budaparpora) untuk ikut memerhatikan. Sehingga cagar budaya di daerah itu bisa diselamatkan dari kepunahan.

"Kami (DPRD,red) siap memperjuangkannya. Dan segera bicarakan dengan dinas terkait. Kendala perbaikan selama ini tentang apa," sebut Raymond Anggota DPRD Solsel yang juga tokoh masyarakat setempat.

Ninik Mamak Abai Sardi Dt Simajo menambahkan, kini nasib rumah gadang terpanjang di dunia di bawah naungan pasukuan Malayu Sigintiu kian terancam punah. Rata-rata dinding bagian belakang rumah terpanjang itu sudah berlobang.

"Begini nasib rumah gadang kami. Sisi dalam rumah gadang 21 ruang, dan atap 15 gonjong dengan panjang  95 meter. Bila diperbaiki, butuh dana sekitar Rp1 miliar. Suku kami belum sanggup menyiapkan dana sebesar itu," sebutnya.

Cagar budaya yang dibangun tahap dua tahun 1972, sudah rusak parah. Bahkan atap sudah tiris. Dulu dibangun secara gotong-royong oleh 14 kaum persukuan yang ada di daerah itu.

Satu gonjong sebagai lambang rumah gadang terpanjang dan pusat perundingan niniak mamak. Dan 14 gonjong lain melambangkan jumlah kaum pasukuan yang ada di Abai.

"Dulu beratap ijuk, dan tiang-tiangnya memakai pasak kayu. Dinding terbuat dari bambu yang sudah disulam erat. Ruang kamar tidur dibangun menggunakan sekat-sekat pembatas, juga terbuat dari apit bambu dan kayu," sebutnya.

Menurutnya, peranan Pemkab dan DPRD Solsel untuk melestarikan warisan cagar budaya ini sangat penting. Karena hanya Solsel yang memiliki satu-satunya rumah gadang terpanjang di Sumbar, bahkan di dunia.

"Saat ini baru sekadar terpopuler sebagai rumah panjang, namun kondisinya memprihatinkan," papar tokoh masyarakat setempat, Mahyunar Chatib Ipi.

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :