5 Fakta Unik Bubble Wrap, Mulai Asal Usulnya sampai Alasan Kenapa Kita Sering Ketagihan Memencetnya

Oleh : UAO - 31 October 2021 09:00 WIB

Ada dua alasan yang melandasi orang membeli atau mencari bubble warp pertama untuk membungkus paket agar barang nggak mudah rusak saat dikirim pakai ekspedisi. Dan kedua, untuk mencari kepuasan tersendiri dengan memencet gelembung-gelembungnya. Untuk yang kedua ini, bahkan orang seringkali berebut satu sama lain hanya demi bisa memencet gelembung kecil di plastik tersebut. Tapi emang nggak bisa dimungkiri sih, rasanya kayak puas aja gitu kalau bisa memecahkan gelembungnya! Aneh bin ajaib! 

Nah, ternyata ada penjelasan psikologis di balik kebiasaan menekan gelembung bubble wrap itu lo. Sampai-sampai ada peneliti yang membuktikannya lewat sebuah eksperimen. Selain itu, benda yang berjasa buat urusan kirim barang ini ternyata juga punya sederet fakta unik, salah satunya soal awal mulanya yang ternyata bubble wrap tidak diciptakan khusus sebagai pembungkus paket, melainkan sebagai wallpaper dinding! Kok bisa sekarang malah dikenal sebagai pelindung benda agar tidak gampang rusak ya?? Simak aja, yuk, ulasannya !

1. Bubble wrap yang kita kenal sebagai pembungkus paket ini ternyata dulunya malah diciptakan sebagai wallpaper. Dua orang yang berjasa dalam penemuan ini adalah Alfred Fielding dan Marc Chavannes

alt="" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/07/hipwee-bblwrp1.jpeg" style="height:289px; width:500px" />

Semua berawal dari sebuah ide menciptakan wallpaper atau stiker dinding bertekstur pada tahun 1957. Alfred dan Marc bereksperimen dengan menyatukan dua tirai shower menggunakan mesin. Saat disatukan, terdapat gelembung-gelembung udara yang terperangkap dalam tirai tersebut sehingga membuat tampilannya jadi bertekstur.

Namun sayangnya, ide wallpaper ini nggak laku-laku amat. Karena nggak mau penemuannya sia-sia, mereka akhirnya mencari cara lain untuk memanfaatkan bubble wrap itu. Lalu mereka menyadari kalau plastik itu sangat ringan dan bisa dipakai sebagai penyekat. Akhirnya, Alfred dan Marc menjadikannya sebagai penyekat pada rumah kaca. Tapi lagi-lagi, ide itu nggak begitu populer.

2. Sampai 3 tahun kemudian, akhirnya mereka kepikiran buat menjadikan penemuannya itu sebagai pembungkus paket setelah ada perusahaan komputer merilis produk baru dan ingin mengirimnya ke luar kota

alt="" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/07/hipwee-bblwrp3.jpg" style="height:332px; width:500px" />

Pada tahun 1960, akhirnya Alfred dan Marc –yang akhirnya mendirikan perusahaan Sealed Air– menemukan cara yang lebih efektif untuk memanfaatkan penemuannya. Jadi setahun sebelumnya, 1959, ada perusahaan IBM merilis produk komputer gitu.

Nah, seorang marketer di Sealed Air, Bowers, menawarkan ide untuk menjadikan bubble wrap produksinya sebagai pelindung komputer saat dikirim ke tempat lain. Dari situlah awal mula bubble wrap dikenal sebagai pelindung paket agar nggak mudah pecah saat dikirim.

3. Lucunya, dalam perjalanannya, bubble wrap juga kerap dijadikan semacam strees-relief oleh banyak orang. Nggak tahu siapa yang memulai duluan, tapi mencet-mencetin gelembung pada bubble wrap emang melegakan~

alt="" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/07/hipwee-bblwrp2.jpg" style="height:312px; width:500px" />

Kebanyakan orang bakal otomatis menekan-nekan gelembung bubble wrap sampai meletus saat sedang memegangnya. Kebiasaan ini kayak dilakukan tanpa sadar gitu. Memencet gelembung bubble wrap terasa sangat melegakan, kayak puas aja saat berhasil membuatnya meletus, apalagi kalau sampai bunyi “pop”. Demam menekan bubble wrap ini bahkan nggak memandang usia lo, mau tua atau muda, banyak juga yang ketagihan!

4. Meski kayaknya cuma buang-buang waktu, ternyata menekan-nekan bubble wrap punya manfaat dari sisi psikologis lo, seperti bisa membuat orang tenang

alt="" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/07/hipwee-bblwrp4.jpg" style="height:332px; width:500px" />

Kathleen M. Dillion, seorang profesor psikologi di Western New England College, pernah melakukan eksperimen kepada 30 mahasiswanya. Ternyata 75% dari mereka merasakan perasaan yang lebih tenang, lebih berenergi, dan berkurang rasa lelah setelah meletuskan gelembung-gelembung bubble wrap. Sensasi itu mirip dengan yang dirasakan orang ketika menggigit kuku, mencari kutu di rambut dan memencetnya, serta bermain fidget spinner. Semua itu sama-sama bisa meredakan stres!

5. Dan ternyata, demam memencet bubble wrap nggak cuma populer di Indonesia aja lo, melainkan juga di banyak negara dunia, salah satunya Amerika Serikat

alt="" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/07/hipwee-Screen-Shot-2020-07-01-at-22.42.44.png" style="height:260px; width:500px" />

Perusahaan Sealed Air –produsen bubble wrap besutan Alfred dan Marc– yang berlokasi di Amerika Serikat, pernah memutuskan berhenti memproduksi bubble wrap yang tidak bisa dipencet. Mereka menamai produknya itu dengan iBubble Wrap. Alih-alih dipenuhi gelembung-gelembung kecil yang bisa diletuskan, iBubble Wrap justru berbentuk lembaran plastik datar yang diisi dengan udara. Semacam bantal gitu. Ternyata, inovasi ini memancing gelombang protes!

Masyarakat menolaknya karena menganggap iBubble Wrap tidak ada esensinya. Bahkan ada orang yang bikin petisi agar iBubble Wrap tidak diproduksi! Sampai segitunya ya… Wah, ternyata barang sesederhana bubble wrap menyimpan banyak fakta yang menarik banget untuk dibahas. Nah, kalau kamu gimana nih, lebih pilih bubble wrap yang dipenuhi gelembung-gelembung kecil dan bisa dipecahkan, atau bubble wrap lembaran biasa yang lebih mirip bantal?

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :