Sebanyak 70 Ribu Hewan di Kebun Binatang Indonesia Hadapi Kelaparan Massal. Nasibnya di Ujung Tanduk

Oleh : UAO - 04 May 2020 14:56 WIB

Wabah virus corona telah berdampak ke banyak sekali aspek kehidupan di bumi. Nggak cuma manusia aja yang kena getahnya, hewan-hewan pun juga. Kalau satwa di alam liar sih mungkin justru jadi bebas setelah manusia membatasi aktivitasnya, tapi lain cerita dengan hewan-hewan yang ada di kebun binatang. Sebelum corona melanda, mereka hidup dari penjualan tiket atau atraksi berbayar yang biasanya disediakan untuk pengunjung. Namun, semenjak seluruh dunia menerapkan physical distancing, kebun binatang jadi sepi dan nggak punya pemasukan lagi.

Akibatnya, puluhan ribu satwa di kebun binatang Indonesia menghadapi kelaparan massal. Pihak pengelola bingung gimana caranya agar tetap bisa menghidupi hewan-hewan yang mereka rawat. Apalagi banyak di antaranya yang termasuk spesies langka dan harus dilindungi. Dalam skenario terburuk, mereka bisa saja terpaksa membunuh sebagian hewan untuk dijadikan makanan bagi sebagian yang lain. Duh, nggak kebayang sedihnya.

Survei dari Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia, 90 persen lebih kebun binatang cuma bisa ngasih makan satwanya sampai pertengahan Mei. Selebihnya? Entah…

alt="" class="fade-in size-full wp-image-1069845" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/05/hipwee-zoohung1.jpg" style="height:189px; width:300px" />

Sebanyak 92 persen kebun binatang yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Lombok mulai kehabisan persediaan makanan untuk satwa-satwanya. Menurut survei, pihak pengelola kebun binatang rata-rata cuma bisa ngasih makan mereka sampai pertengahan Mei aja. Penurunan jumlah pengunjung secara drastis sejak Maret kemarin jadi alasannya. Penghasilan jadi menurun, bahkan berhenti total.

Kondisi di atas menuntut pengelola kebun binatang untuk lebih “kreatif”. Beberapa kebun binatang ada yang mulai memuasakan satwanya. Kayak harimau di Kebun Binatang Bandung, yang jadwal makannya jadi “sehari makan, sehari puasa”. Kuantitasnya juga dikurangi. Jika biasanya dalam 2 hari seekor harimau makan 10 kg daging, sekarang jadi cuma 8 kg. Ada juga yang memanfaatkan daun pohon bambu di lingkungan kebun binatang untuk campuran pakan gajah.

Bahkan dalam skenario terburuk, mungkin saja pengelola kebun binatang jadi terpaksa mengorbankan hewan herbivora ke karnivora. Sedih sih, tapi gimana lagi…

alt="" class="fade-in size-full wp-image-1069848" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/05/hipwee-zoohung4.jpg" style="height:169px; width:300px" />
Nggak ada yang tahu secara pasti kapan pandemi ini berakhir, dan kapan pula kebun-kebun binatang di Indonesia kembali dibuka untuk publik. Kondisi ini jika berlangsung lebih lama mungkin akan memaksa pihak pengelola untuk merelakan hewan-hewan herbivoranya yang sudah berusia tua untuk dimangsa karnivora. Belum lagi mereka juga harus mikirin gimana cara mempertahankan satwa-satwa yang dilindungi kayak harimau sumatra, anoa, tapir, atau orangutan.

Hilangnya pemasukan kebun binatang akan berdampak pada kesejahteraan hewan secara keseluruhan, nggak cuma soal makanannya aja

alt="" class="fade-in size-full wp-image-1069847" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/05/hipwee-zoohung3.jpg" style="height:169px; width:300px" />

Selain buat beli makanan, pemasukan yang diperoleh kebun binatang juga dipakai buat menggaji perawat satwa (keeper) dan petugas lainnya yang mendukung keberlangsungan kebun binatang. Saat pemasukan nggak ada, manajemen jadi terpaksa merumahkan pekerjanya atau mengurangi jam kerja pegawai. Pengamat satwa liar dan lingkungan dari Institut Pertanian Bogor, Prof Adi, khawatir kondisi itu juga bisa berdampak pada kesejahteraan hewan. Mereka jadi nggak ada yang merawat, memperhatikan, dan lain-lain. Hubungan psikologis para keeper dan satwa yang dirawat jadi terganggu.

Dalam kondisi normal aja udah banyak kebun binatang yang kurang memperhatikan kesejahteraan satwanya, baik dari sisi kesehatan, kecukupan gizi, maupun interaksi. Apalagi di kondisi kayak gini, situasinya bisa jadi lebih parah.

Saat ini, pihak kebun binatang cuma bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah atau donatur yang ingin kehidupan satwa di sana tetap tercukupi

alt="" class="fade-in size-full wp-image-1069846" src="https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2020/05/hipwee-zoohung2.jpg" style="height:169px; width:300px" />
Nggak semua kebun binatang di Indonesia mendapat subsidi dari pemerintah untuk menghidupi satwa-satwanya. Sebagian dimiliki secara pribadi dan hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket. Makanya, saat sepi pengunjung, mereka pun harus kehilangan pemasukan juga. Kebun-kebun binatang ini pun cuma bisa mengharap bantuan dari pemerintah atau donatur yang mungkin tergerak karena kasihan lihat hewan-hewan di sana nggak bisa makan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sih bilang kalau pemerintah bakal memberi bantuan kepada kebun binatang. Beberapa waktu lalu, mantan Menteri Perikanan, Bu Susi Pudjiastuti, menawarkan bantuan untuk merawat rusa-rusa yang terbengkalai karena pihak kebun binatang kehabisan dana membeli pakan untuk mereka. Tapi rusa-rusa itu cuma segelintir di antara banyak sekali satwa di Indonesia yang saat ini “meraung-raung” karena kelaparan.

Buat kalian yang mungkin punya rezeki lebih dan ingin membantu kelangsungan hidup satwa di kebun binatang, kalian juga bisa lo langsung memberikan bantuan ke pihak kebun binatang di daerah kalian yang mungkin kesulitan memberi makan satwa-satwanya. Di masa-masa sulit kayak gini, bantuan dalam bentuk apapun akan sangat berarti. Yuk, saling sebarkan kebaikan~

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :