Menguak Siasat Perang Tan Malaka Lewat "Gerpolek"

Oleh : UAO - 23 November 2019 09:00 WIB

Konsep merdeka ditafsirkan beragam oleh masing-masing orang. Begitu pula yang dirasakan oleh Tan Malaka, pejuang kemerdekaan yang lekat dengan predikat anti-berunding, ketika melihat kondisi Indonesia pasca deklarasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Bagi Ibrahim Datuk Sutan Malaka nama lengkapnya kekuasaan belum sepenuhnya dipegang oleh rakyat setelah tiga tahun merdeka. Belanda alias sekutu masih mewarisi berbagai negara boneka yang mengancam kedaulatan hingga menyebabkan kemunduran di berbagai sektor pemerintahan.

Hal ini membangkitkan jiwa pemberontak Tan Malaka untuk melakukan perlawanan, meski dalam kondisi terkukung sebagai tahanan hotel prodeo Madiun, sebelum akhirnya ia dieksekusi tanpa pengadilan.

Melalui buku berjudul "Gerpolek (Gerakan, Politik dan Ekonomi)" yang ditulis pada 1948, Tan Malaka mengungkap siasat perang untuk menentang imperialisme dan kolonialisme, dengan mengandalkan intuisinya menyusun strategi tanpa latar belakang ilmu kemiliteran ataupun referensi.

Tokoh yang wafat pada 21 Februari 1949 itu, memutuskan untuk membentuk laskar Gerilya. Mereka dibekali "senjata" Gerpolek, sehingga terbentuk menjadi pribadi pantang menyerah dan tak mengenal waktu berjuang merebut kemerdekaan. Tan Malaka pun mengibaratkan Sang Gerilya sebagai Anoman.

"Seperti sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya sanggup membinasakan Dasamuka. Demikianlah pula Sang Gerilya percaya bahwa Gerpolek akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme," tulisnya.

Oleh karena itu, buku Gerpolek menguliti seluk-beluk peperangan yang bisa disebut sebagai "strategi militer" Tan Malaka. Menurutnya, dalam berbagai hal siasat perang tanpa melakukan perlawanan justru semakin memperkuat musuh.

Tak ayal, konsep perjuangan tak mengenal tempo seperti Sang Gerilya, juga bisa dijadikan acuan untuk masyarakat kekinian.

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :