NTT Punya Labuan Bajo, Bagaimana Minat Turis Lokal?

Oleh : UAO - 15 November 2019 09:00 WIB

Plesiran telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Bukan hanya berlibur ke luar negeri yang diminati masyarakat Indonesia, melainkan juga piknik ke berbagai destinasi wisata di Tanah Air.

Selama Kompas Travel Fair 2019 yang berlangsung 20 hingga 22 September 2019, destinasi wisata domestik yang menjadi favorit pengunjung yakni Bali, Lombok, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Banyuwangi.

Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur memang memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan 4 destinasi lainnya.

Keistimewaan Labuan Bajo karena destinasi itu merupakan gerbang menuju Pulau Komodo, yang merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia versi organisasi New 7 Wonders.

Bukit-bukit yang hijau di Labuan Bajo yang dikenal dengan Bukit Cinta pun tak kalah menarik. Wisatawan bisa menikmati matahari tenggelam di Bukit Cinta.

Lantas, ada Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gili Montang, dan Pulau Nusa Kode.

Ciri khas Labuan Bajo yakni Taman Nasional Komodo sendiri berada di Pulau Komodo. Selain reptil purba itu, turis bisa menikmati kura-kura laut dalam jumlah besar maupun terumbu karang yang berwarna-warni.

Ada juga pantai di sekitar Pulau Manjerite yang bisa menjadi area snorkeling. Laut di sekitar pulau itu menyimpan kekayaan alam berupa ikan-ikan beraneka ragam serta karang dengan beragam bentuk dan warna.

Dengan beragam potensi alam tersebut, pemerintah telah menetapkan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas selain Danau Toba (Sumatera Utara), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), dan Candi Borobudur (Jawa Tengah), dan Likupang (Sulawesi Utara).

Membangun infrastruktur

Untuk itu, pemerintah mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur di 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas tersebut mencapai Rp 7,6 triliun pada 2020.

Secara khusus, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga mendukung program KSPN tersebut dengan menyiapkan akses jalan dan jembatan.

 

alt="Ditjen Bina Marga membangun akses jalan dan jembatan di 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Salah satu destinasi wisata yang termasuk KSPN super prioritas adalah Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur." src="https://asset.kompas.com/crops/-35CeybfiqKVHx2762gs3dyIxH4=/89x0:1168x719/750x500/data/photo/2019/11/04/5dc035cd61569.jpg" />

 

Dirjen Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, institusi yang dipimpinnya tentu mengacu pada Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Induk (master plan) yang menaungi masing-masing sektor.

Saat ini, Ditjen Bina Marga memberikan dukungan terhadap Proyek Strategis Nasional yang terdiri atas 9 Kawasan Ekonomi Khusus, 7 Kawasan Industri Prioritas, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, dan Kawasan Perbatasan Negara.

Dalam Renstra Ditjen Bina Marga, imbuh dia, telah ditetapkan dukungan-dukungan tematik tersebut yang dilaksanakan secara simultan dalam waktu 5 tahun.

Dalam menjalankan tanggung jawab tersebut, ia mengakui pembangunan infrastruktur tak lepas dari berbagai tantangan.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam membangun infrastruktur di sejumlah KSPN yakni pembebasan lahan.

Untuk mengatasi persoalan itu, kata dia, Ditjen Bina Marga membutuhkan keterlibatan instansi lain, termasuk pemerintah daerah (pemda) setempat.

 

alt="Ditjen Bina Marga membangun akses jalan dan jembatan di 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas. Salah satu destinasi wisata yang termasuk kawasan super prioritas adalah Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur." src="https://asset.kompas.com/crops/NREiXIYaD4wgnFaBVtiwM1sbeE4=/0x0:591x394/750x500/data/photo/2019/11/04/5dc03665197bc.jpg" />

 

Selain itu, utilitas pada lokasi pekerjaan pelebaran jalan juga menjadi kendala.

“Sehingga memerlukan koordinasi terhadap pemilik jasa untuk dapat dipindahkan,” ucap Sugiyartanto.

Pada 2019, Ditjen Bina Marga mengalokasikan anggaran sebesar Rp 869.673.347.000 untuk 5 KSPN.

Menurut dia, anggaran tersebut digunakan untuk beberapa penanganan jalan akses dan jembatan, antara lain pemeliharaan rutin jalan, pemeliharaan rutin kondisi, rehabilitasi jalan, rekonstruksi jalan, pelebaran jalan menuju standar, pelebaran jalan menambah lajur, pembangunan jalan, pemeliharaan rutin jembatan, rehabilitasi jembatan, dan penggantian jembatan.

Sugiyartanto menerangkan, Ditjen Bina Marga tahun ini menangani 83,17 kilometer (km) jalan akses dan 423,80 meter (m) jembatan di Labuan Bajo.

Adapun anggaran yang dialokasi untuk pembangunan infrastruktur di Labuan Bajo sebesar Rp 58.400.722.000.

 

alt="Ditjen Bina Marga membangun akses jalan dan jembatan di 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang tergolong super prioritas. Salah satunya adalah Labuan Bajo di NTT yang ditargetkan rampung akhir 2020." src="https://asset.kompas.com/crops/9emMeepkW7gp6nELhcaGA2jBhjM=/0x0:1280x640/780x390/data/photo/2019/11/04/5dc036e9252a3.jpg" />

 

“Pembangunan fisik hingga saat ini telah mencapai 80,34 persen,” ujar dia.

Apabila pembangunan akses jalan dan jembatan di Labuan Bajo telah rampung, mobilitas turis lokal maupun mancanegara yang berniat plesiran ke destinasi wisata tersebut bakal semakin mudah.

Maka, bukan tak mungkin bila minat turis datang ke Labuan Bajo bakal meningkat drastis dengan tersedianya infrastruktur jalan dan jembatan. Dampaknya, tentu saja jumlah kunjungan wisata ke Labuan Bajo, NTT ikut meningkat.

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :