Tradisi dan Inovasi, Belajar Pada Kemasan Daun Pisang dari Thailand

Oleh : Nurul Marta - 10 May 2019 19:52 WIB

 

src="https://genagraris.id/storage/posts/May2019/KILK25Jg1LoSdONgZokZ.jpg" style="height:186px; width:200px" />

 

Tanggal 22 April lalu, dunia merayakan hari Bumi. Hari Bumi mengingaktkan kita agar senantiasa menjaga dan merawat Bumi, memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara bijak, sehingga tidak memperparah kerusakan lingkungan.

Tradisi Bumi

Penduduk nusantara sebenarnya tidak asing dengan hari Bumi. Sejak jauh hari, atau sejak jaman dulu penduduk nusantara sudah memperingati hari Bumi, dengan nama, metode, cara dan kegiatan yang berbeda. 

Umumnya di Jawa terkenal dengan sebutan Sedekah Bumi. Tradisi turun-temurun ini, bukan hanya peringatan tetapi juga perayaan kebersyukuran kepada Tuhan, memperlakukan Bumi sebagai sesuatu yang “hidup”, sebagai saudara atau partner dalam kehidupan manusia.

Cerita rakyat Dewi Sri sebagai dewi padi, merupakan simbolisme atas perlakuan masyarakat nusantara yang menempatkan bumi sebagai “Ibu” dalam mekanisme kehidupan sehari-hari. Cerita rakyat dan tradisi itu menunjukan pemahaman yang jauh lebih mendasar mengenai pengelolaan dan pemanfaatan alam.

Masalah Lingkungan, Salah Satunya Sampah Plastik

Namun, lambat-laun tradisi dan nilai dasar atau falsafah warisan leluhur itu luntur, seiring dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan materiil, desakan penggalan pemahaman modernitas, dan tidak adanya pembelajaran tradisi yang brekelanjutan.

Akbitanya, dimana-mana terjadi ketidak-seimbangan alam, sebagai konsekwensi atas pengelolaan dan pemanfaatan alam yang tidak berpegang pada nilai “Ibu”. Banjir, degradasi tanah, kepunahan biodiversitas, yang salah satunya disebabkan oleh sampah yang tidak bisa terurai.

Ya, sampah plastik sudah sangat mengacam keberlangsungan lingkungan. Baru-baru ini ramai diberitakan ditemukan kematian ikan laut yang didalam perutnya penuh dengan sampah plastik. Sumbatan sampah plastik juga menjadi penyebab banjir di kota-kota, selain juga tentunya menurunkan kualitas tanah.

Soluasi dengan Kemasan Daun Pisang dari Thailand

alt="Kemasan dari daun pisang" src="https://www.genagraris.id/storage/posts/May2019/Tradisi,%20Inovasi%20dan%20Kemasan%20Daun%20Pisang%20dari%20Thailand1.jpg" style="height:100px; width:267px" title="keasan dari daun pisang" />

Sumber: Perfect Homes Chiang Mai

Bagai masyarakat di perdesaan di Indonesia mungkin sudah bukan hal yang aneh, tapi ketika daun pisang dijadikan kemasan produk untuk produk yang dijual di supermarket, ini menjadi lain. Posting-an, kemasan daun pisang untuk produk yang dijual di supermarket, oleh akun facebookPerfect Homes Chiangmai, menjadi berita internasional, masuk di Forbes, dan lainnya.

Bukan hal baru, tetapi keratif dan solutif, Rimping Supermarket, supermarket di Thailand tepatnya di Chiang Mai menggunakan daun pisang sebagai kemasan produk buah dan sayuran. Setiap produk buah dan sayuran dibungkus dengan daun pisang yang dengan ikanan dari bambu, ditempeli nama dan keterangan produk.

Kemasan Daun Pisang, Solusi Lingkungan Sekaligus Solusi Bisnis

alt="kemasan daun pisang" src="https://www.genagraris.id/storage/posts/May2019/Tradisi,%20Inovasi%20dan%20Kemasan%20Daun%20Pisang%20dari%20Thailand2.jpg" style="height:75px; width:200px" title="kemasan daun pisang" />

Sumber: Perfect Homes Chiang Mai

Kemasan daun pisang itu juga menyatakan falsafah "sedernaha tetapi bermanfaat" merupakan inti dari inovasi. Inovasi tidak selalu harus canggih, dan berkaitan dengan teknologi. Daun pisang sebagai kemasan produk yang rapih dilabeli dengan nama produk juga merupakan inovasi.

Sontak, banyak orang memberikan apresiasi positif atas kemasan daun pisang itu. Daun pisang yang berasal dari pohon pisang sebagai tanaman tropis tentunya mudah didapat sehingga harganya ekonomis. Dan, nilai lebihnya kemasan dari daun pisang itu dapat mengurangi sampah plastik, mendukung program ramah lingkungan.

Ide Inovasi dari Tradisi

Belajar dari itu, baiknya kita menengok kembali cara kerja pada tradisi-tradisi yang diwariskan oleh leluhur kita. Boleh jadi, cara kerja yang ada pada tradisi lama dapat dikembangkan sebagai inovasi yang ramah lingkungan. Tentunya ini didasarkan pada kenyataan orang dulu sangat menghargai dan bijak dalam mengelola sumber daya alam.

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :