Pelapukan Batuan Dan Penggolongannya

Oleh : Nurul Marta - 06 April 2019 09:50 WIB

Pelapukan batuan merupakan kata yang barang kali sudah tidak asing bagi kita yang pernah belajar di sekolah mengenai pengetahuan alam. Kemungkinan besar di antara kita semua ada yang mempelajari secara medetail mengenai hal - hal yang berhubungan dengan pelapukan batuan tersebut. Materi pengetahuan tentang pelapukan batuan ini memang kemungkinan besar pernah diajarkan disekolahan, bahkan kemungkinan juga ditingkat perguruan tinggi. Pelapukan pada dasarnya merupakan bagian dari peristiwa alam yang umum terjadi dan tempatnya di bagian daratan bumi.

Pengertian dari pelapukan yaitu suatu peristiwa yang terjadi di alam yang mana merupakan proses penghancuran bebatuan yang besar menjadi bagian kecil - kecil. Batuan yang dihancurkan mulai dari bongkahan yang sangat besar dan keras ataupun agak lunak. Bebatuan tersebut mengalami kehancuran disebabkan oleh beberapa macam faktor mulai dari ulah makhluk hidup maupun faktor yang terjadi secara alami di alam. Faktor penyebab alami bebatuan mengalami pelapukan diantaranya keadaan cuaca dan iklim, perubahan suhu lingkungan, beberapa unsur zat kimia yang tercampur pada air hujan dan mengenai bebatuan, dan lain sebagainya yang terjadi secara alami. Berdasar pada faktor penyebab terjadinya pelapukan bebatuan maka pelapukan dapat digolongkan menjadi pelapukan melalui proses mekanik, pelapukan melaui proses kimiawi, dan pelapukan melalui proses biologis.

 

Proses pelapukan batuan secara mekanik

Pelapukan bebatuan secara proses mekanik merupakan suatu proses penghancuran atau pelepasan dari material batuan yang mana tidak merubah susunan kimia dari batuan tersebut. Pelapukan mekanik ini terjadi dengan penghancuran bebatuan ukuran besar menjadi bongkahan batuan yang berukuran kecil - kecil. Pelapukan ini diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya perubahan suhu lingkungan, akibat perbuatan makhluk hidup disekitar batuan, dan juga kondisi lingkungan sekitar tempat bebatuan tersebut berada.

Bebatuan yang ada di bumi terbentuk dari berbagai macam zat mineral dan berbeda jenis zat mineralnya. Berbagai macam zat mineral tersebut bergabung antara satu dengan yang lainnya untuk membentuk bebatuan yang membentuk kulit bumi. Dari berbagai macam mineral penyusun bebatuan memiliki tingkat koefisien pemuaian yang tidak sama antara satu jenis mineral dengan jenis lainnya. Perbedaan tingkat koefisien pemuaian dari berbagai macam zat mineral ini tentunya memiliki pola perubahan penyesuaian yang berbeda dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

Sinar matahari pada siang hari tentunya juga memberikan pengaruh pada pola penyesuaian dari zat mineral penyusun bebatuan yang ada di bumi. Zat - zat mineral penyusun batuan yang mudah menyerap panas maka akan lebih mudah mengalami pemuaian dibandingkan dengan zat mineral lain yang kurang bisa atatu sulit menyerap panas matahari. Proses pemuaian yang dialami beberapa zat penyusun batuan tersebut mengakibatkan bagian - bagian batas atau pembatas antara zat - zat penyusun batuan mengalami perubahan ukuran atau bahkan retak - retak. Ketika malam hari suhu lingkungan mengalami penurunan karena tidak ada sinar matahari. Penurunan suhu ( pendinginan ) ini tetunya juga mempengaruhi beberapa sifat dari zat penyusun bebatuan tersebu. Biasanya zat mineral yang mudah menyerap panas tentunya juga akan mudah melepas panas. Zat mineral yang lebih cepat melepas panas ini tentunya mengalami penyusutan volume yang cepat dibanding dengan mineral lainnya. Proses yang berlangsung secara terus menerus seperti ini tentunya dapat mengakibatkan bidang pembatas mineral menjadi retak atau merenggang. Proses seperti ini berlangsung terus - menerus berulang - ulang setiap hari tentunya lama kelaman bagian demi bagian dari batuan yang keras akan mengalami retak dan tepas selapis demi selapis dimulai dari bagian batuan terluar.

Bagian batuan besar yang retak dan lepas tersebut akan mejadi bagian yang lebih kecil bisa dinamakan dengan batu kerikil. Batu kerikil ini juga mengalami proses yang sama seperti yang dijalaskan pada paragrap sebelumnya. Proses seperti demikian juga berlangsung terus maka dengan berjalannya waktu yang semakin lama batuan kerikil menjadi bagian yang lebih kecil lagi dinamakan dengan butiran - butiran pasir. Selanjutnya setelah menjadi butiran pasir, proses yang sama masih terus berlangsung hingga pada akhirnya butiran - butiran pasir ini menjadi debu - debu yang halus. Proses alam yang seperti ini merupakan pelapukan batuan yang terjadi secara mekanik.

Pada suatu tempat atau daerah yang kondisinya memiliki empat musim juga biasanya banyak terjadi pelapukan secara mekanik. Proses secara mekanik dapat terjadi bilamana bagian pori - pori dari bebatuan ketika musim panas terisi oleh air maka pada musing dingin dapat mengalami peretakan atau bahkan batuan tersebut pecah. Peristiwa seperti ini terjadi karena air yang terdapat pada pori - pori batuan tersebut mengalami pembekuan pada musim dingin. Air yang membeku pada musim dingin ini memiliki volume yang besar, batuan ditekan oleh volume air membeku yang berada pada pori - pori yang dimiliki tentunya lama semakin lama akan bisa mengalami retak dan akhirnya pecah menjadi bagian batuan kecil. Kejadian seperti ini juga termasuk suatu proses pelapukan batuan dengan melalui cara mekanik.

 

Proses pelapukan batuan secara kimiawi

Penghancuran atau pecahnya batuan di alam menjadi bagian - bagian yang lebih kecil juga dapat disebabkan oleh prose kimiawi. Pelapukan atau penghancuran batuan secara kimiawi ini merupakan proses pelapukan yang meyebabkan batuan yang lapuk tersebut mengalami perubahan secara sususan kimia. Dengan kata lain pelapukan ini merupakan pelapukang batuan yang mengakibatkan perubahan pada susunan kimia dari batuan. Pelapukan secara kimia ini dapat terjadi karena adanya beberapa faktor pendukung dari alam diantaranya adanya air ditambah dengan perubahan suhu lingkungan yang tinggi atau ekstrim. Adapun proses yang terjadi pada pelapukan secara kimiawi ini dinamakan dengan proses dekomposisi.

Di alam ini ada beberapa proses yang termasuk proses pelapukan secara kimiawi diantaranya hidrasi, hidrolisa, oksidasi dan karbonasi. Hidrasi merupakan pelapukan batuan yang mana mengikat bagian batuan pada posisi permukaan batuan. Hidrolisa ini suatu proses kimia yang berkaitan erat dengan proses pembentukan tanah liat, proses hidrolisa merupakan proses penguraian air menjadi bahan kimia penyusun air tersebut dalam bentuk ion positif dan ion negatif. Oksidasi ini merupakan proses yang dapat menyebabkan besi berkarat ( pengkaratan ). Bebatuan yang mengalami proses oksidasi tampilan atau warna dari batuan tersebut akan mengalami perubahan seperti besi yang berkarat, dikarenakan kandungan besi dalam batuan tersebut berkarat. Proses pelapukan dengan oksidasi ini memerlukan atau terjadi dalam waktu yang lama, meskipun demikian tetap akan terjadi pelapukan pada batuan tersebut. Proses karbonasi merupakan pelapukan batuan yang berlangsung dengan bantuan gas karbondioksida ( CO2 ) yang mana gas ini banyak terdapat pada air hujan pada saat bentuknya masih dalam wujud uap air. Pelapukan dengan karbonasi ini mudah terjadi pada jenis bebatuan kapur dengan bantuan air dan suhu yang tinggi.

Peristiwa pelapukan bebatuan secara kimiawi ini banyak dijumpai pada daerah dengan batuan kapur. Pada batuan - batuan kapur terdapat retakan - retakan yang dinamakan dengan diaklas. Air hujan yang jatuh dari langit dan mengandung zat kimia karbondioksida ( CO2 ) dapat meresap ke dalam batu kapur dengan melalui diaklas yang dimiliki oleh batu kapur sehingga meyebabkan proses pelarutan, Akibat dari proses pelarutan ( pelapukan kimia ) ini maka lama kelamaan celah ( diaklas ) yang dimiliki oleh bebatuan kapur akan semakin lebar. Bagian ujung dari diaklas yang telah melebar akam membentuk seperti corong yang dinamakan dengan dolina. Biasanya pada bagian dasar dari dolina ini terdapat saluran pembuangan air yang mana menembus lapisan kapur yang terdapat di bawah. Dolina yang jumlahnya banyak tersebut antara satu dengan yang lainnya mempunyai saluran pembuangan air tanah yang saling berhubungan sehingga membentuk jaringan saluran air yang dinamakan sungai bawah tanah. Sungai bawah tanah ini terus mengalir hingga sampai pada ujung yang lautan sebagai pembuangan air terakhir dari saluran sungai bawah tanah ini. Akan tetapi terkadang pada tempat - tempat tertentu saluran air ini muncul ke bagian permukaan sebagai suatu bentuk mata air.

 

Proses pelapukan batuan secara biologis atau organis

Pelapukan batuasn secara biologis ini disebabkan oleh makhluk hidup baik oleh hewan, tumbuhan, atau oleh manusia. Pelapuan batuan cara ini dapat berlangsung secara mekanik maupun secara kimiawi. Pelapukan bantuan disebabkan oleh tumbuhan, akar yang dimiliki oleh tumbuhan dapat membuat bebatuan menjadi retak dan pecah menjadi bagian yang kecil - kecil. Hewan juga dapat menyebabkan bebatuan mengalami kehancuran menjadi bagian yang kecil - kecil. Selanjutnya bahkan manusia sendiri juga bisa melakupan pelapukan batuan dengan teknologi yang dimiliki oleh manusia.

Tag

Artikel Terkait

Kuis Terkait

Video Terkait

Cari materi lainnya :