Home » Kongkow » Tutorial » Membangun Kebun Sayuran Mini di Teras Rumah Menggunakan Vertikultur

Membangun Kebun Sayuran Mini di Teras Rumah Menggunakan Vertikultur

- Senin, 21 Desember 2020 | 14:00 WIB
Membangun Kebun Sayuran Mini di Teras Rumah Menggunakan Vertikultur

Berkebun di area lahan yang terbatas memang membutuhkan kreativitas. Vertikultur bisa menjadi salah satu cara bertanam untuk para hobiis dan para penyuka berkebun sayuran di pekarangan rumah. Kesan pertama memperhatikan dari hasil teknik Vertikultur, adalah soal estetikanya, nyaris mirip susunan tanaman hias. Selain untuk estetika lingkungan, sayuran hasil bertanam pun bisa dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga.

vertikultur_agromedia

Vertikultur adalah sistem tanam yang mengarahkan media tanam dan tanaman ke arah atas ini bisa menjadi alternatif yang menarik. Cara ini pun mudah diaplikasikan siapa saja. Selain bisa diterapkan di darat, vertikultur bisa juga diaplikasikan di atas kolam air. Bahkan ada pula yang mengembangkan tanpa media tanah, dengan hidroponik.

Vertikultur bisa dikatakan sebagai solusi berkebun di masa depan. Cara berkebun di lahan sempit ini selain hemat lahan dan aman bagi lingkungan, aktivitas mencangkul atau membajak tanah tidak lagi diperlukan. Terlebih lagi media tanam juga praktis dan mudah dipindah-pindah.

Yang menarik, aneka tanaman sayuran seperti seledri, peterseli, pakcoi, kangkung, bisa kembangkan dalam wadah teknik vertikultur. Bahkan, tidak hanya tanaman sayuran, tanaman umbi-umbian, hortikultur, dan tanaman pangan pun bisa tumbuh dengan teknik ini.

Nah, terkait masa panen, teknik vertikultur nyaris sama dengan teknik bertanam konvensional. Misalnya, untuk tanaman lombok membutuhkan waktu sekitar 90 hari. Sementara itu, tanaman sawi dan selada memiliki masa panen 40 hari.

Beberapa kelebihan lain dari teknik vertikultur di antaranya hemat lahan, hemat air dan pupuk, serta perawatannya pun mudah.

Bahkan, jika diseriusi, teknik tanam vertikultur bisa menghasilkan peluang bisnis. Inspirasi bisnis tanaman dengan teknik vertikultur datang dari Suhadi, Pasuruan yang menggunakan lahan 10 x 10 meter persegi untuk ditanami bawang merah. Sekali panen ia menghasilkan sekitar 18 juta rupiah. Setidaknya ada 300 pralon dengan tinggi 2 meter yang ia gunakan. Jadi, selain bisa untuk konsumsi sendiri, hasil sayuran vertikultur juga bisa bernilai ekonomi.

 

vertikultur_agromedia_pralon1

Wadah Tanam untuk Vertikultur

Wadah untuk menanam dengan teknik vertikultur yang banyak digunakan adalah paralon PVC berukuran panjang 2 meter.

Dalam penerapannya, ukuran paralon diaplikasikan secara berbeda-beda sesuai jenis dan tipe tanaman. Ukuran paralon yang sedang akan cocok jika ditanami caisim, seledri, pakcoi, kangkung, dan peterseli. Hal ini berdasarkan pertimbangan akar tanaman bertipe kecil.

Jarak antartanaman (antarlubang) biasanya menggunakan 20—25 cm. Namun, khusus tanaman cabai diperlukan jarak yang lebih renggang atau menggunakan paralon spiral, sehingga tajuk tanaman satu dengan lainnya tidak bertemu dan tidak terlalu rimbun.

vertikultur agromedia

Untuk melubangi paralon dibutuhkan gergaji dan panas api. Berikan jarak antara 20—25 cm dan lebar garis 10 cm. Buatlah garis-garis tersebut selang seling. Setelah semua garis jadi, gergaji sesuai ukuran. Lalu panaskan sisi bagian atas garis yang digergaji sampai agak lunak, lalu tekuk ke dalam menggunakan botol beling bekas. Sementara itu, di bagian bawah paralon, sebaiknya dicor atau diberi adonan semen yang diwadahi dengan ember atau baskom bekas.

Selain dengan paralon, para penyuka hobi berkebun bisa mencoba teknik vertikultur menggunakan jeriken bekas, botol bekas, talang air, bambu, kotak bekas tempat telur, dan lain sebagainya. Cara ini bisa dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan kreativitas masing-masing penanam.

 

Cari Artikel Lainnya