Home » Kongkow » Game » EJGaming, karir Youtuber tak bisa jadi pegangan

EJGaming, karir Youtuber tak bisa jadi pegangan

- Rabu, 25 September 2019 | 22:30 WIB
EJGaming, karir Youtuber tak bisa jadi pegangan

Erwin Jingga (EJGaming), mengawali karirnya sebagai Apoteker. Lulusan Farmasi Universitas Airlangga ini nekat berhenti bekerja, di bulan ke delapan, sebelum menyelesaikan kontrak setahun kerjanya. Dia pun mengejar karir di YouTube, sebagai kreator konten dan merekam dirinya sendiri bermain gim. Karir yang mungkin menjadi idaman bagi pecinta video gim. Selain terkenal, tentu jalan hidup seorang EJ penuh kesempatan dan tawaran.

Saat memutuskan keluar dari pekerjaannya, EJ tidak memberi tahu orangtuanya. Dia yakin betul dengan keputusannya waktu itu, sehingga merasa tak perlu terpengaruh keputusan orang terdekatnya.

“Orangtua maunya (karir) lebih aman. Saat itu, yang tahu aku (keluar) cuma calon istri. Abang aku semua enggak tahu, orangtua aku enggak tahu. Lama-lama aku capek bohongnya. Untungnya orangtua open minded waktu aku jujur,” ungkapnya.

Dua tahun kemudian, dia terkenal luas dengan kanal YouTube EJGaming, dan kini mengumpulkan subscriber 1,7 juta (Juli 2019). Itu angka yang fantastis untuk kanal YouTube seumur 2 tahun.

Cerita EJ kepada Tek Id, ketertarikannya kepada dunia YouTube, terutama dalam mengkreasi konten gim, berawal dari melihat banyaknya YouTuber gamer serupa. Pengaruh gamer-YouTuber yang tidak terlalu terkenal, justru memicu semangatnya untuk menjalani karir serupa.

"Jadi sebenarnya motivasinya bukan melihat (YouTuber) yang gede-gede, malah yang kecil-kecil. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak bisa gitu," ujarnya.

Mobile Legends menjadi konten pertama EJ setelah  memutuskan membuat konten gim. “Karena perlengkapannya sederhana. Butuh gadget sama internet doang," ujarnya.

Selama enam bulan pertama, EJ sudah memperoleh seratus ribu subscriber. Saat itu, dia beranggapan, pertumbuhannya justru kurang pesat. Mengingat, saat ini, kreator konten sepertinya bisa mencapai angka yang sama dalam waktu satu-dua minggu.

Permainan Arena of Valor (AoV) jadi momentum kedua EJ. Dia menyadari, penonton gim Indonesia butuh informasi lebih. Dia pun mengunduh gim tersebut, sebelum AoV menularkan demam MOBA kepada penggemar gim mobile Indonesia.

Beralih ke PUBG Mobile

 “Dulu itu, upload PUBG Mobile enggak laku loh. Pertama kali upload PUBG (ke YouTube) peminatnya rendah banget,” kata EJ.

Meski awalnya PUBG Mobile di YouTube belum sepopuler sekarang, EJ melihat ada potensi besar di konten ini. Dengan jeli dia mengklasifikasi pemain PUBG Mobile di YouTube.

“Player PUBG itu ada (karakter) yang jago main, editingnya bagus, tampangnya oke, informatif, sama lucu,” tuturnya.

Melihat pemain PUBG Mobile yang lihai menggunakan perangkat tablet (iPad) di PUBG Mobile, dia mencoba untuk mengasah skill PUBG Mobile di perangkat smartphone.

“Aku coba ambil karakter yang jago main. Saat itu, player PUBG pakai iPad. Aku coba pakai smartphone. Aku upload game play main pakai smartphone. Momennya waktu itu PUBG Mobile Start Challenge 2018 di Dubai. Aku waktu itu dapat momentumnya, karena pemain pro main pakai smartphone,” ungkapnya.

Hanya dalam waktu satu bulan, basis penggemar AoV EJGaming, terkejar dengan penggemar PUBG Mobile barunya, karena tertarik melihat dia jago bermain di smartphone. Waktu itu, subscriber EJ melonjak dari 300 ribu, menjadi 500 ribu.

Dia sadar, 300 ribu subscriber aktif itu merupakan basis penggemar AoV EJ. “Dari 300 ribu yang aktif 30%. 200 ribu (penggemar PUBG Mobile) yang aktif hampir 70%. Jadi, waktu itu, walaupun penonton PUBG Mobile dua ratus ribu, hampir aktif semua fan base-nya,” ungkapnya.

Audiens mungkin melihat, proses pembuatan konten bermain gim itu gampang. Sebenarnya, untuk EJ, dia butuh belasan jam demi sebuah konten menarik. Dia pernah mencari konten dari jam 10 pagi sampai jam 3 pagi lagi keesokan harinya.

“Lebih dari 13-14 jam untuk satu konten PUBG Mobile. Waktu itu, aku nyobain solo versus squad. Itu enggak segampang yang orang kira,” ujarnya.

Hari buruk pun pernah terjadi. Bahkan, sampai EJ tidak menemukan konten seru pun, terpaksa Dia unggah ke kanal YouTube-nya.

Sampai saat ini, EJ sendiri yang menelurkan ide untuk mengkreasikan konten-konten di kanal YouTube-nya. Dia hanya dibantu dua anggota tim lain, seorang manajer, editor video, dan dia sendiri.

Saat ini, bermain PUBG Mobile sudah mulai sulit. Pasalnya, pemain umum pun semakin meningkat kemampuannya. Untuk finish menjadi “chicken” perlu tiga sesi permainan.

“Sekarang makin ke sini makin susah. (Sekarang) rata-rata rasio kemenangan aku 30%. Jadi, tiga kali pertandingan, satu kali chicken. Dulu 60-70% rasionya,” ujarnya.

Berlatih trik baru pun butuh jam terbang. EJ perlu 60 jam untuk menguasai trik jitu, semisal bermain dengan lima jari.

“Aku kalau lagi ekstrem bisa (latihan) 10-12 jam seharian.”

Berarti, dengan rata-rata sesi permainan sepanjang itu, perlu 5-6 hari untuk menguasai trik baru.

Karir YouTube itu singkat

“Jadi sebenarnya dunia YouTube itu tidak bisa jadi pegangan (karir),” kata EJ.

Meski menikmati banyak tawaran dan kesempatan karena konten-kontennya yang hit di Youtube, EJ menyadari, dia tidak akan bertahan lama di jalur ini. Bahkan, EJ berpikir, menjadi pemain profesional di bidang ini juga bukan tujuannya.

“Aku enggak kepikiran jadi pro player. Karena salah satu faktornya harus dedikasi tinggi. Butuh banyak waktu. Kedua, nasibnya agak enggak jelas. Karena biasanya, melihat pengalaman pro player, kontrak mereka bisa putus kapan saja."

EJ melihat, dalam waktu tiga bulan, pemain pro bisa putus kontrak dan melihat ada keanehan di situ. Pemain profesional Indonesia punya usia emas di angka 16-23 tahun. Semakin muda biasanya semakin lihai, apalagi PUBG Mobile membutuhkan kejelian mata.

Dia pun mulai merintis sebuah bisnis di luar jalur YouTube-nya. “Belum jalan, mungkin bulan September-Oktober itu baru mulai,” katanya.

EJ sendiri belum memprediksi kapan karir YouTube-nya akan berakhir. Dia hanya bisa memperkirakan, mungkin sekitar dua atau tiga tahun lagi.

“Bukan berarti (kanal) YouTube-nya tutup loh ya!” katanya.

Sayangnya, wawancara bersama tek.id tak bisa dimuat dalam bentuk video karena EJ mengenakan biaya tersendiri, walaupun wawancara bersama media. GG EJ!

 

Cari Artikel Lainnya