0
1162
0
Beberapa Penyakit Yang Mematikan Profesi Guru
2 months 'ago'

Herman JP. Maryanto. 2009. dalam bukunya Penyakit Mematikan Profesi Guru. Refleksi Proses Pemelajaran Seperti dikutip N. Kotten, bahwa ada lima penyakit yang mematikan profesi guru. Lima penyakit sekarang ini terus menggorogoti mentalitas karakter para pendidik (guru/dosen), sehingga proses pemelajaran dari waktu ke waktu semakin rapuh, tak bermakna, dan unjung-ujungnya kualitas pendidikan kita terpuruk. Lima penyakit guru yang adalah sebagai berikut: 

1. Pertama penyakit “Kurap” dan Kudis” (Kurang Persiapan dan Kurang Disiplin) 

Gejala penyakit ini nampak ketika guru memasuki ruang kelasnya tanpa membawa buku, lembar kerja siswa (worksheet), alat peraga atau media belajar dan bahkan tidak selembar kertas pun ada di tangannya. Gejala umumnya terjadi pada para guru senior yang merasa sudah berpengalaman dan puluhan tahun mengajar. Semua bahan ajar sudah ready stock di dalam kepalanya, tinggal di re-call kapan saja dia mau. 


Guru ini tidak melihat pentingnya persiapan. Ia bisa mengajar di luar kepalanya, dan dijamin tidak kehabisan bahan. Penyakit kurang persiapan (Kurap) sangat membahayakan anak didik, karena mereka hanya akan mendapatkan stock pengetahuan yang terbatas dan cendrung sudah kadaluarsa, tidak update serta tidak aplikatif. 

Sedangkan penyakit Kurang Disiplin (Kudis) ditandai oleh guru yang datang ke sekolah senin-kamis. Masuk ke ruang kelas lebih banyak terlambatnya dibanding tepat waktunya. Penyakit kudis sangat merugikan anak didik. Membuat mereka loyo, tidak termotivasi belajar. Guru kudis-an bukan sosok yang menarik dijadikan model bagi para murid, terlebih dalam hal kedisiplinan. 

Guru kurap-an dan kudis-an keduanya berbahaya bagi murid, mereka akan memiliki persepsi negatif tentang profesi guru. Mereka menilai bahwa pekerjaan guru tidak lebih dari pada pekerjaan murahan, tidak profesional. Alih-alih mereka kelak tertarik menjadi guru, lebih baik bekerja yang lain yang ber-skill. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu waktu saja ambruknya profesi guru dan pendidikan kita. 

Berikut, adalah obatnya. Penyakit Kurap dapat disembuhkan dengan makan buah “Salak” (Siapkan dan Laksanakan). Semua guru hendaknya memiliki komitmen untuk selalu membuat persiapan sebelum mengajar. Jangan pernah merasa nyaman memasuki ruang kelas tanpa memiliki persiapan. Persiapan pun mesti konsisten dilaksanakan sesuai skenario yang telah direncanakan. Persiapan sekurang-kuranganya memiliki komponen; pembukaan, pelaksanaan inti proses pemelajaran dan penutup. Ingat pepatah bijak; “If you fail to plan, you plan to fail”. Jika anda gagal merencanakan, maka sama artinya Anda merencanakan kegagalan. Sehebat apapun Anda sebagai guru dan sebebarapa banyak ilmu pengetahuan yang Anda miliki dalam otak, itu tidak pernah akan cukup, perlu terus ditambah dan diperbarui setiap saat. Hanya guru yang menyiapkan dan melaksanakan proses pemelajaran dengan cermat, sungguh-sungguh, lengkap, jelas, dan rinci, akan bisa memelajarkan muridnya. 

Untuk mengobati sakit Kudis, Anda bisa makan buah “Jambu: (Jangan Membuang-buang waktu). Guru yang memiliki perilaku disiplin akan menghargai waktu dan datang tepat waktu, tidak akan mengurangi waktu yang menjadi haknya para murid. Menyia-nyiakan waktu milik murid hanya untuk kepentingan diri sendiri adalah salah satu bentuk tindakan koruksi. Jangan anggap remeh waktu yang hanya beberapa menit. Walaupun semenit, bisa jadi waktu itu sangat berarti bagi para murid. Kelolah waktu dengan bijak jika Anda tidak mau dipanggil pak Tuter alias tukang terlambat. 

2. Penyakit kedua adalah “Sembelit” (Sedikit Membaca Literatur) 

Seorang guru, idealnya tidak pernah lepas dari apa yang namanya literatur. Literatur dalam arti luas adalah sumber-sumber belajar atau informasi, termasuk internet, buku-buku pelajaran, buku referensi, jurnal, laparan ilmiah sampai majalah dan koran. Literatur dalam bentuk media cetak maupun media elektronik hendaknya menjadi makanan sehari-hari bagi para guru. Dalam era informasi seperti sekarang ini, banyak literatur bisa diakses dari mana saja, bahkan bisa diakses langsung dari sumber aslinya hanya cukup dengan meng-klik screen internet Anda. 

“Sembelit” adalah salah satu penyakit mematikan profesi guru. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dalam sebuah kegiatan pemelajaran jika seorang guru hanya memegang satu buku suci yang disebut buku paket itu? Dipastikan guru tersebut akan dibilang muridnya tidak gaul, ketinggalan jaman atau kuno. Tanpa terus membaca, memperbaharui wawasan dan pengetahuan, maka proses pemelajaran dijamin tidak akan aktual. Guru cendrung gagap dalam setiap topik yang hangat dan menjadi bahan pembicaraan para murid atau masyarakat. 

Guru “Sembelit” cendrung romantis membanggakan masa lalu dan menyalahkan masa kini. Sementara muridnya yang dilahirkan sebagai generasi digital, kapan saja dan dimana saja akrab dengan dunia informasi. Guru berpenyakit “Sembelit” akan diacuhkan oleh murid-murid alias di-cuek-in karena setiap omongannya tidak connect. 

Kondisi cukup memprihatinkan, bahkan 80% guru di Indonesia adalah guru-guru yang tidak pernah mengalokasikan anggaran untuk membeli buku-buku, majalah atau koran demi menunjang profesi mereka (Darmaningtyas, 2004). Dengan kata lain 80% guru-guru di Indonesia tidak memiliki kebiasaan membaca atau mengakses informasi. Anda bisa bayangkan sendiri, apa yang didapat oleh murid yang belajar dengan guru demikian. Belum lagi kebanyakan murid-murid kita juga belum memiliki habitus membaca yang baik. 

Bagi para guru yang sakit “Sembelit” ada sejenis buah yang bisa membantu mengobati penyakit Anda yakni buah “Kesemak” (Kembangkan diri Sekurang-kurangnya Membaca Koran). Kalau guru gajinya sedikit, tidak mampu membeli literatur, maka sekurang-kurangnya berusaha rajin untuk membaca koran. Koran mungkin dapat dijadikan salah satu jalan keluar. Media rakyat yang dapat berfungsi sebagai jendela untuk mengintip apa yang terjadi di luar sana. Dengan membaca tajuk rencana, berita, artikel, opini, dan lain-lain yang disajikan di koran, akan membantu meng-update agar tidak ketinggalan informasi. Guru yang rajin membaca koran sekurang-kurangnya akan mengetahui situasi, memahami dunia sekitar, dan tidak gagap jika harus berbicara topik-topik tertentu yang ada kaitannya dengan peristiwa atau hal-hal yang sedang aktual. 

3. Penyakit yang ketiga adalah “Batuk-Asma” (Belajar atau Tidak Urusan kemudian – Asal Materi Abis). 

Penyakit ini banyak mengidapi terutama para guru nyasar. Yaitu orang-orang yang menjadi guru karena terpaksa. Bekerja sebagai guru hanya sebagai pengisi waktu, batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik. Mereka tidak memiliki bekal ilmu kependidikan, psikologi pekembangan anak, serta ilmu didaktik-metodik yang memadai. Guru pengidap “batuk-Asma” tidak memiliki panggilan sebagai pengajar maupun pendidik. Mereka bukan guru tetapi seorang pekerja murni. Tugas utamanya melaksanakan perintah atasan, berikut mendapatkan upah. Karena tujuan utama bekerja adalah upah, maka cendrung apatis kepada para murid. Yang penting melakukan tugas sesuai juklak (petunjuk-pelaksanaan) dan juknis (petunjuk-teknis), asal materi ajar habis diakhir tahun pelajaran. Perkara siswa mengerti atau tidak itu urusan mereka. 

Murid-murid yang mendapatkan guru dengan jenis penyakit ini, akan merespon dengan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, bagi murid yang memang ogah-ogahan akan menyenangi guru berpenyakit “batuk-Asma” karena apapun yang mereka buat, guru tidak peduli. Belajar atau tidak, guru tidak memperhatikan. Sebaliknya bagi murid-murid yang serius dan sungguh-sungguh ingin belajar, mereka akan tersiksa dan putus asa. Apapun yang mereka buat agar bisa memahami mata pelajarannya, tidak pernah mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Bukan murid yang men-cuekin gurunya tetapi guru yang men-cuekin muridnya. 

Guru sakit “Batuk-Asma”, dapat diobati dengan makan buah “Mangga” (Mengajar Anak Nggak/Jangan Asal-asalan). Meniru kalimat iklan; “kalau mengajar jangan asal-asalan, kalau asal-asalan jangan mengajar”. Mengajar asal-asalan pasti akan merugikan banyak pihak yakni murid, orang tua, sekolah dan bahkan masa depan bangsa. Maka sebaiknya kalau asal-asalan lebih baik jangan mengajar, jangan menjadi guru. 

Siapa pun murid Anda, percayalah bahwa mereka memiliki kelebihan disamping kekurangannya. Mereka unik dan istimewa. Guru dituntut mem-perhatikan masing-masing secara pribadi. Pada dasarnya tidak ada murid yang senang di-cuekin. Para murid akan lebih menaruh perhatian kepada kata-kata, perilaku, perhatian dari gurunya dari pada materi-materi ajar yang disajikan. Ketika murid merasa diperhatikan dan didengarkan maka materi pelajaran dengan sendirinya akan mudah dipahaminya. Pekerjaan guru tidak sekedar menghabiskan materi pelajaran, tetapi juga menginspirasikan murid untuk mengembangkan diri sesuai potensinya. 

4. Penyakit keempat adalah, “Sariawan” (Siapkan Anak-anak dengan Ringkasan, Aman Waktu Ujian) 

Penyakit ini selalu mewabah dan mengidapi para guru pada saat-saat menjelang dilaksanakannya Ujian Nasional (UN). Hampir semua guru yang mengajar di kelas-kelas terakhir teridap penyakit ini. Mereka getol membuat ringkasan materi pelajaran. Ratusan bahkan ribuan kumpulan soal-soal disiapkan lalu di DRILL-kan kepada para murid demi UN. Guru pengidap penyakit “Sariawan” cendrung mengajak anak “belajar untuk lupa”, instant dan tidak bermakna. Skor ujian menjadi tujuan utama. Setelah ujian usai para siswa tidak tahu lagi apa yang mereka telah pelajari. Alih-alih memanfaatkan ilmu yang telah mereka pelajari untuk memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi, mengingat saja mereka tidak mampu. Belajar bertahun-tahun, hanya diakhiri dengan kegiatan-kegiatan mekanistik tak bermakna. Guru-guru “sariawan”, sekilas nampak pintar, hebat, memiliki jurus-jurus jitu menjawab lusinan soal, namun sebenarnya, mereka tidak memberikan apa-apa kepada para muridnya, kecuali pembodohan. 

Untuk meredahkan sakit “Sariawan” dapat makan buah APEL (Arahkan dengan Proses yang benar, dan Latilah). Dengan buah “Apel: guru diharapkan bisa dengan sabar membimbing, mengarahkan melalui proses pemelajaran yang sistematis sesuai dengan perkembangan murid. Mengarahkan tidak berarti hanya menasihati atau menyuruh, melainkan lebih berdiri di pihak murid, mengetahui pikiran dan kemauannya, berikut menawarkan alternatif-alternatif kemudian memberi kesempatan si murid yang akan menentukan pilihannya sendiri. Lakukan pemelajaran yang mementingkan pada proses yang runtut sistematis, strategis, tidak sekedar berorientasi kepada hasil akhir yang berupa angka-angka. Melatih anak-anak secara terstruktur, tidak sekedar mendapatkan jawaban benar, melainkan juga menguasai konsep dan memiliki banyak alternatif untuk menyelesaikan permasalahan adalah kewajiban guru. Hindarkan sistem DRILL (Dadakan, meRepotkan, Irasional, dan me-Lelahkan). 

5. Penyakit yang mematikan yang kelima adalah “Menceret dan Mules” (Mengajar, Nerocos Terus dan Mutu Lulusan Lesu). 

Tidak sedikit guru yang mengalami “menceret” kronis. Agar dilihat pintar dan berwibawa di mata murid-muridnya, guru lebih senang mengalirkan kata-kata bertuah, penuh nasihat. Ceramah, nerocos terus ingin memperlihatkan bahwa ia benar-benar seorang guru yang bijaksana. Isi ceramah kadang sarat dengan nasihat-nasihat seperti: bagaimana menjadi anak yang baik, meraih hidup sukses di masa depan dan lain-lain. Kadang materi pelajaran pokok yang mesti diajarkan terlupakan, karena saking pandainya merajut kata-kata memberikan nasihat. Ketika semua muridnya diam tertunduk, guru “menceret” merasa bangga dan puas bahwa pelajarannya didengarkan, dan dihayati. James Baldwin mengatakan bahwa anak-anak tidak pernah bisa mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan orang dewasa, tetapi mereka tidak pernah akan gagal untuk menirunya. Guru yang cendrung mengajar dengan ceramah atau nerocos terus dijamin tidak akan didengarkan oleh para muridnya. Mereka diam dan menunduk-kan kepala bukannya mendengarkan melainkan tidur nyenyak. Kalau pada setiap pelajaran para murid tertidur, dapat diprediksikan maka hasil akhir dari proses pemelajaran adalah nol besar, tidak bermutu alias “Lesu”. Masa depan suram, tidak bergairah, tidak memiliki semangat juang dan daya saing. Mau meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi otak tidak mampu karena ketika sekolah lebih banyak tidurnya dari pada meleknya. Mau bekerja mencari duit, tidak memiliki keterampilan. 

Untuk menyembuhkan sakit “Menceret-Mules” perlu menelan “Aspirin” (Ajarilah Siswa dengan Penuh Inisiatif-Reflektif dan Inspiratif). Mengajar yang hanya ceramah terus dipastikan tidak bermutu. Inisiatif adalah upaya guru untuk melakukan sesuatu dalam proses pemelajaran sehingga menggairahkan murid untuk belajar. Upaya dapat berupa cara-cara penggunaan strategi mengajar yang variatif, memerhatikan model belajar murid, gaya belajar murid dan yang lebih penting murid menjadi senang belajar. Reflektif, adalah kemauan guru untuk terus-menerus melihat kembali apa yang telah dilakukan dan diupayakan, apakah proses pemelajaran sudah efektif, menarik bagi murid, menyenangkan dan tujuan tercapai?. Inspiratif adalah upaya memberikan stimulasi bagi murid agar termotivasi dan menimbulkan kemauan untuk memelajari lebih lanjut sesuatu yang baru. 

Saran saya, untuk Anda yang belum terjangkit penyakit-penyakit di atas, tetaplah terus waspada, lakukan tindakan preventif dengan obat-obat alami seperti disebutkan di atas sehingga proses pemelajaran Anda akan bermakna bagi masa depan generasi penerus bangsa ini.

Follow Us On :
Lencana
Kongkow