999 +
0
1756
0
Guru, sibuk membuat administrasi, kapan mengajarnya?
3 months 'ago'

Sebagai guru di zaman sekarang sangat berbeda dengan di zaman dahulu. Zaman dahulu menjadi guru begitu sederhana dan simpel. Zaman sekarang menjadi guru selalu dikejar-kejar administrasi. Disuruh membuat Silabus, Prota, RPP dan lain-lain. Belum lagi harus mengisi ini dan itu. Ketika lagi asyik mengajar, lagi-lagi diganggu dengan perintah adm. Kelas harus ditinggal-tinggal.

Teman-teman ada yang sudah membuat, ternyata disalahkan oleh pengawas. Padahal dia sudah mencetak begitu tebal dan mereka harus mengulangi lagi dari awal. Saya lebih suka melihat guru menulis buku-buku ilmiah atau populer daripada melihat guru-guru sibuk membuat RPP. Bukannya meremehkan perencanaan, tapi juga jangan mempersulit diri dengan terpaku RPP.

Saya kasihan melihat guru-guru yang sudah punya cucu. Mata sudah mulai rabun, pemahaman sudah menurun dan gagap teknologi. Mereka guru-guru lawas yang simpel. Masuk kelas dan mengajar. Kasihan sekali melihat guru-guru yang sudah punya cucu itu harus mengerjakan RPP. Mengajar dituntut pakai media. Seperti LCD dsb.

Dalam contoh RPP juga dituntut menggunakan metode belajar yang kalau menurut saya lebih pantas untuk mahasiswa. Tak masuk dalam pikiran saya mengajar anak SD dengan metode diskusi. Yang terjadi malah ramai. Saya suka yang simpel dan fleksibel. Tidak harus menurut pada contoh RPP. Cara mengajar di Jakarta jelas jauh beda kalau kita mengajar di pedalaman Papua.

Kasihan sekali nasib para guru. Saya masih belum PNS jadi tidak tertarik untuk menjadi PNS kalau banyak tuntutan seperti itu. Di sisi lain banyak 'kelompok' jabatan di negeri ini yang mudah sekali mendapatkan ggaji dan tunjangan yang melimpah tanpa susah-susah. Semisal jadi DPR. Tapi kenapa menjadi guru, untuk mendapatkan tunjangan harus melalui 'jalan berliku' yang melelahkan. Padahal mereka adalah pahlawan bangsa ini. Pahlawan yang terlupakan.

Saat saya sekarang bisa membaca, menulis dan berhitung itu karena jasa para guru. Kasihan sekali nasib mereka yang itu artinya saya mengasihani diri saya sendiri yang juga seorang guru. Belum lagi hal-hal lain yang menyebabkan para guru yang biasa mengajarkan ke murid-murid harus jujur kini harus sering-sering 'berbohong'. Lagi-lagi kalau menyangkut masalah anggaran. kadang kita terpaksa atau 'dipaksa' berbohong. Korupsi kecil-kecilan istilahnya.

Murid-murid maafkan guru-gurumu yang kerap meninggalkan kelas dan menyerahimu tugas karena begitu banyak gangguan dari pemerintahmu.

Kadang saya berpikir, kalau besok ganti presiden, ganti menteri pendidikan, apa kira-kira aturan juga berubah lagi? kalau iya, sungguh melelahkan. Pagi saya mengajar di sekolah sebagai guru agama wiyata bhakti, kalau sore mengajar ngaji di mushola. Alhamdulillah lebih nyaman mengajar di mushola. Lebih mengena dan lebih nikmat. Meski mendapat honor tak seberapa, mudah-mudahan kebanjiran pahala. amin.

Para guru ayo bersemangatlah! meski engkau kerap tertindas. Banyak-banyaklah membaca, menulis dan berkarya. Cintai murid-muridmu sebagai mana engkau mencintai anak-anakmu sendiri. Didiklah anak-anak menjadi anak-anak yang berakhlak mulia dan berotak cerdas. Bersabarlah atas kelakuan mereka. Bagaimanapun mereka hanya anak-anak yang sedang belajar. Sehingga dalam prosesnya sering berbenturan dengan guru.

Follow Us On :
Lencana
Kongkow