0
1
0
Inspirasi di Tengah Keramaian
3 years 'ago'

      Oleh: Yunita Hardikasari

       Sore tadi aku mengayuh sepeda dalam perjalanan pulang usai menggikuti kegiatan sekolah. Ku kayuh sepeda dengan penuh rasa cinta, sembari menengok pesona alam nan indah rupawan. Walaupun kini peluh mulai membasahi tubuhku, namun aku tetap semangat. Keramaian kota turut menjadi sahabat karib perjalananku kali ini. Suara bising kendaraan senantiasa hadir silih berganti.
    Saat aku mulai terbawa dengan indahnya suasana. Tak sengaja aku dikejutkan dengan insiden seorang kakek paru baya yang hampir ditabrak seseorang yang mengendarai motor besar. Namun Allah begitu baik dengan menyelamatkan umatnya yang lemah itu. Namun miris rasanya saat seseorang yang bermotor besar itu mengeluarkan sumpah serapah dari bibirnya yang tak berdosa itu. Bukannya memahami kondisi sang kakek yang tak lagi kuat, ia malah mengendarai motornya dengan cepat. Aku yang secara langsung berada di belakang sang kakek teramat geram pada orang tersebut. “Hmmmm....orang yang tak memiliki perasaan.” Ungkapku dalam hati.
    Setelah insiden itu dengan penuh penasaran akupun membuntuti sang kakek. Dari belakang terlihat jelas kaki sang kakek yang nampak kurus, kulit yang mulai keriput dan rambut putih yang bertebaran di mana – mana. Aku menduga bahwa sang kakek mengalami rematik. Bukan tanpa sebab karena sang kakek mengajuh sepeda dengan langkah yang sedikit terseok. Untaian nafas yang terengah – engah juga ku lihat dari raut wajah sang kakek.
   Aku mencoba tetap membuntuti sang kakek. Suatu ketika di sebuah perempatan jalan, ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah maka semua kendaraan diharuskan berhenti, begitupun denganku. Namun sayangnya aku berada di belakang sebuah mobil. Sontak saja aku kehilngan jejak sang kakek. Saat lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau akupun belok menuju arah barat dari perempatan. Namun...ketika aku menoleh ke belakang ternyata mobil tadi membunyikan klakson yang begitu panjang. Aku terkejut dan ingin sekali memaki supir mobil itu. Pasalnya mobil itu tak mau mengalah dan terus mendesak sang kakek untuk mengayuh sepeda lebih cepat. Bahkan ke dua bola mataku tak kuasa memandang, saat sang kakek hampir terjatuh karena berada dalam posisi tak seimbang. Hal ini karena ia harus membonceng sekarung rumput untuk pakan ternaknya.” Wooi....mengalah kasihan kakek itu..” ungkapku kesal. 
        Tiba – tiba aku terjatuh karena menambrak sebuah pohon.”Prakkkk...” bunyi sepedaku yang sedikit terpental. Sontak saja orang – orang di sekelilingku terkejut dan menolongku.”Kamu tidak apa – apa nak?? Lain kali jika mengayuh sepeda hati – hati jangan toleh ke belakang.” Tegur salah seorang dari mereka.” Aku tidak apa – apa, terima kasih sudah menolongku. Lain kali aku akan jauh lebih hati – hati lagi.” Akupun segera mengambil sepedaku yang tadi terpental, dan mulai mengayuh kembali. Ada rasa penyesalan dalam hatiku karena aku harus kehilangan jejak sang kakek itu. Namun aku bangga karena aku masih bisa menemukan kembali inspirasi baru dalam perjalananku kali ini.

Pelajaran yang dapat ku letik dari kisah sang kakek ialah
“ Hidup itu harus teris bergerak
Tak peduli berapapun ujian yang datang menghampiri
Tak peduli beribu untaian pedas yang silih berganti
Kita haruslah tabah menjalani
Senantiasa yakin akan pertolongan Illahi
Insyaallah kita mampu tuk selalu menjalani perjalanan hidup ini.”(Ynt)

(CERPEN KU)

Follow Us On :
Lencana
Firman Ramadhan
Upload Quis Badges
Firman Ramadhan
Upload Quis Badges
Firman Ramadhan
Upload Quis Badges
Firman Ramadhan
Upload Quis Badges
Firman Ramadhan
Upload Quis Badges
Kongkow